papan depan
March 11th, 2007 by adeputri15ia kembali bersemedi.
lampu-lampunya mati. tak ada lagi berisik karaoke-an di malam suntuk. sekilas
hanya tampak lampu teras menghiasi depan rumah agar tampak berpenghuni.
nyatanya tidak. paling hanya hantu-hantu penghuni tetap yang akan menjaga rumah
itu.
sudah 4 hari keheningan berlangsung. jika melihat tembok birunya, banyak
kenangan indah penuh misteri di dalamnya. sudah 11 tahun ada di depan muka saat
pertama kali berkenalan dengannya.
saat itu dibangun oleh kalangan pembuat "rumah kota" yang kini menjamur di seantero jakarta. kalau dipikir-pikir inilah yang original.sedikit bangga tidak salah rupanya.
dua orang suami istri hendak mencari tempat bernaung yang lebih nyaman. sudah
sumpek sepertinya berada di jantung kota
yang riweh. pastinya angin surga yang membawa mereka ke tempat ini untuk
mencari suasana baru. tak terlalu ramai, tetangganya punya antek-antek yang
seumuran, dan kebetulan rumah depan dihuni oleh salah seorang teman sekolah
dulu. makin akrab lah mereka. setelah itu tak perlu dijelaskan lebih
lanjut, yang pasti semua barikade diboyong ke rumah ini.
tapi hal itu tak berlangsung lama. belum ada 2 tahun ditempati, semua harus
pergi. ke pulau lain nun jauh disana. sedih sekali. apa mau dikata, semua harus
beranjak.
ia mulai dijajaki kaki-kaki lain. dipinjam oleh ras kaukasian,
peminum bir. lantainya jadi kotor dan bau amis. tembok-tembok cemberut
memaki tiada henti. botol-botol menghiasi dapur berjejer rapi berseri-seri.
isinya cairan edan pembuat otak miring. mereka tertawa riang siang dan malam
selama hampir setahun lamanya. dan akhirnya berhenti setelah kontrak habis.
tak ada banyak waktu bersemedi, ia dilabur lagi. kali ini yang menempati wanita
mesir. lukisan kucing dan piramid digantung disana-sini. apik dan penuh misteri.
masa-masa gelap menyeruak.lampu selalu terpasang redup. pegangan pintu nyaris
tak pernah tersentuh. jarang ada yang keluar dari situ. hanya celah debu dan
sela-sela udara yang mampu menembusnya. pancaran sinar seakan tidur panjang
bagaikan putri salju.
ia merindukan penghuni asli. sampai pada abad ke 21, rombongan itu muncul
kembali membawa sensasi. rumah ceria dirombak sedemikian rupa tampak mempesona.
ternyata duka sedang meliputi yang punya. bersandar pada dirinya agar tak
terlalu terbius kesedihan semata. ia lihat manusia berurai airmata ditinggal
yang tercinta. kadang tak henti melamun dan menerawang. kadang mengucap doa
kepada sang pencipta di tengah malam, atau mendengar obrolan rahasia yang hanya
dirinya yang bisa mendengarkan.
hidup dimulai kembali. pagi menyiram bunga, dilanjutkan dengan sore bertandang
main kerumah tetangga dan malam memanggil pedagang kaki lima, semua dilakukan bersamanya. ia senang. ia kembali hidup walaupun diselingi dengan air mata ketika
makhluk-makhluk berbulu mati di badannya. makhluk yang ia kenal lucu dan
kemudian beringas harus meninggalkan dunia dan kembali ke tanah. ia kembali
menyimak sejarah ditato dalam batinnya. alat-alat baru mempercantik badannya,
pakaian elok membalut tubuhnya, canda riang dan jenaka yang berlalu lalang
bersama waktu yang terus mengalir deras.
sampai pada suatu ketika, seseorang hendak merantau untuk waktu yang tidak
lama. semua berpikir untuk meminjamkannya kembali dan bersandar pada yang
lain. temannya yang lebih besar dan sama-sama lahir bersama 20 tahun lalu,
menjadi pilihan terakhir untuk ditempati. kenyataan yang pahit. kenapa bukan
dia yang terpilih untuk ditinggali oleh yang asli? kenapa harus dia dengan
orang lain?
tubuh mungilnya memang mampu menyedot perhatian sang pemburu. tawaran untuk
dimiliki sepenuh hati pun banyak terlontar. semua ditolak. ia tahu, pemilik
asli sangat mencintainya. itu rumah pertama yang ia punya. jadi cukup
dipinjamkan saja.
dan jatuhlah pilihan. ia kembali dipinjamkan. kali ini kepada seorang nenek tua
pemilik rumah sakit. nenek lincah tanpa suami. hidup bersama pasangan suami
istri yang bukan mantu ataupun anaknya sendiri. nenek yang bahagia, memiliki
dirinya yang mungil dan bersahaja. ia senang lampu selalu terang.
barang-barangnya banyak. bingkai-bingkai figura berjuntai dimana-mana. layar
kaca selalu hadir bersamanya.
namanya juga sudah tua, suatu hari nenek terpeleset di kamar mandi. sakit
sekali. semua perabot terkejut. apakah sendu akan menyelimuti lagi. nampaknya
tidak. nenek sehat kembali. nenek doyan arisan, karaoke sampai malam,
bercengkrama dengan anak, cucu dan mertua, semua nenek lakukan bersamanya.
menjelang tahun kedua nenek murung. nenek tak mampu menyelimuti kegalauan.
nenek tak bisa terus menerus tinggal bersamanya. ongkos pinjam meminjam tidak
semurah biasanya.nenek mulai mengepak teman-temannya saru per satu. muka nenek
tidak sedap. tidak ada senyum di bibir nenek. nenek suka menangis sendiri
karena harus pergi ke tempat yang nenek benci meskipun tetap dengan pasangan
suami istri.
penghuni asli
tak dapat berbuat banyak karena juga butuh lembaran kertas mahal untuk makan.
malam ini ia kembali sendirian, dibuai angin dingin yang kadang bertiup
lantang. cahaya sinar menemani di depan hidungnya. tidak ada suara-suara
penghibur telinganya.
entah sampai kapan ia akan terus seperti ini. tapi yang pasti ia akan segera
berpenghuni..