Archive for August, 2007

sirna

Tuesday, August 21st, 2007

Sudah satu purnama terlewati,
sosok-sosok itu kian jarang terlihat. tampaknya sibuk dengan gundah gulana
sendiri. jodoh, duit, kemelut hati. memang belum tiba saatnya berkumpul
kembali, agar puncak rasa itu lebih afdol dinikmati.


Dimulai dengan hilangnya seorang gadis berambut ungu. Helaian yang
berangsur-angsur coklat, membuatnya mengambil keputusan untuk merantau ke ujung  kota merombak
bentuk dan warna sang mahkota. ia pun terbelit utang kiri-kanan akibat
kesibukan akhir bulan lalu. kini ia banting tulang tutup lubang utang-utangnya.
memang karma sungguh ada di dunia. dahulu ialah sang penagih hutang terhandal
sejagat raya. kini ia pun kejang-kejang dikejar hutang karma. edan..

Menggelinding bak bola salju. dari satu tempat ke tempat lain. kutu loncat.
satu dijabani, yang lain disabet juga. ia tidak maruk, mungkin hanya bimbang
pada si hati. mungkin hati kecil dan instingnya kurang bekerja untuk memilah.
semua tawaran menggiurkan batin. ia pergi merantau ke banyak negeri. negeri
pertama berlimpah bubuk pahit beraroma wangi. si boneka salju ini pernah
menetap beberapa purnama di negeri  ini, namun entah mengapa
tiba-tiba  ia minggat begitu saja. dasar kutu salju.  kali ini ia
seperti mendapat wangsit untuk menjabani negeri  pahit wangi tapi memang
kalau bukan jodoh pasti kemana-mana. selang satu hari ia minggat. seekor
merpati sempat menyampaikan kabar gembira agar ia sejenak ke arah barat, ada
sinar terang di sebelah sana.
sebuah harta  yang sesuai dengan ilmu yang didalaminya sedang menanti.
namun, karena medan
terlampau berat, ia tak mengubris. lalu, ia mendapat wangsit untuk ke negeri
yang lebih jauh. negeri hijau kaya. pergilah ia berlayar. akhirnya, mencairlah
si kutu salju ini di negeri berlimang koin-koin emas. mungkin saat musim dingin
tiba, ia akan mulai menggelinding lagi. kita nantikan..

Yang satu ini hilang pada enam hari dan dapat ditemui di awal minggu. ia cuma
mengeram dalam sarang mungil di pojok atap atau pohon bambu. berikan ia siulan,
kelak ia akan keluar dengan sayap biru tak lagi kelabu seperti hatinya yang
sudah-sudah. ia melanglang buana mencari hati yang belum terisi. lain waktu
mengalirlah cerita sendu kepergian mantan kekasih ke pelukan sahabat yang tak
lagi tercinta. siang menyengat tak kenal iba, ia bawa orang asing yang sebenarnya
masih satu pohon. ia ingin sekali terbang menjelajah hutan, namun kawanan yang
lain terpecar ke berbagai arah. Kali lain dibawalah seorang teman baik yang sebenarnya
tak pernah seorang pun pernah melihat sosoknya. Teman baik? Mirip dengan yang dulu. Berharap tak lagi melukai perasaaanya,
ia jalani hidup bebas ini dengan terbang menuju tempat-tempat asing. Berdua.
Tak ada yang lain. Mereka tidak nyasar, hanya bertapa sejenak menikmati
kesendirian..

Jiwanya terlempar ke gurun tandus akibat terbawa arus aroma kemeriahan
pesta. terombang-ambing dengan canda tawa yang berakhir penyesalan. saat ini
jiwanya separuh kosong. dibalik tawa renyahnya ia menyimpan kebingungan untuk
segera mengeluarkan jiwanya dari gurun tandus. segala upaya dijalaninya dengan
menjumpai jin pemilik gurun agar segera mengembalikan nyawanya. tampaknya
tidak membuahkan hasil. setelah ditimbang-timbang, beratnya masih dalam skala
minus cukup. walaupun demikian ia masih bisa bertandang menyaksikan dunia
seminggu sekali. memang agak sulit mengajaknya hijrah, karena sepertinya ia
masih memiliki luka batin yang belum kunjung sembuh. sabarlah, waktu itu akan
segera datang dan kita akan berjumpa lagi..


Makhluk yang bisa dikategorikan makhluk halus. begitu bulan baru datang, ia
sama sekali tak tampak. ia hanya bercengkrama melototi rangkaian tinta hitam
berbentuk huruf-huruf kecil. suaranya tak terdengar, apalagi mukanya. mungkin
di biliknya ia sibuk menggunting helai demi helai kertas tipis yang biasa untuk
bungkus kacang agar si ketua mudah membacanya. beberapa waktu lalu ia sempat
terlihat lewat kode-kode masa kini yang mengungkapkan keinginannya untuk
bertemu. lagi-lagi karena keterbatasan masa, batal pula pertemuan itu. masih
betahkah dirinya merobek2 lembaran itu? padahal sudah cukup banyak kawanan yang
pindah dari tempat itu..


Ratusan ribuan pengadu nasib ia
cerna satu persatu, entah apa kerjanya yang penting mereka dapat lulus menuju
perkampungan modern nan sadis di ujung dunia. Dengan bahasa carut marut dan materi seadanya, ia menjadi penentu kawanan
pemburu materi itu mencari jejak harta di negeri orang. Berharap tidak kembali
menjadi seoongok bangkai daging, ia harus ekstra keras memantau kemahiran masing-masing individu. Pekerjaan mudah namun membawa petaka dan beban batin
tak terperi ketika muka-muka pasif itu tak mampu kembali ke bumi.


Rumah keduanya telah menjadi rumah pertama setelah seorang bidadari
meniduri ruang kosong di sebelah kamar. Wangi semerbak surga tak dapat
terelakkan membuat hatinya tertambat pada sosok gaib. Bidadari dengan seorang
dayang. Bukan sedang bermain di muka dunia, tapi memang sedang mencari hunian
baru. Lama kelamaan sang manusia tak lagi bermain dengan kawanannya. Ia selalu
mengelak diajak. Dimaklumi. Didiamkan. Tak diacuhkan. Tak masuk hitungan.
Terbuang. Suatu siang tersiar kabar mengejutkan dirinya tersungkur di aspal
panas menggebu. Robek. Pincang. Terseok. Kala itu barulah ia mengingat kawanan yang tak lagi dijambanginya. Semoga
lain waktu ia tak terbuai dengan sesosok makhluk, karena masih banyak yang
peduli padanya. Semoga..


Tiga makhluk arus balik. Bukan subjek-subjek dalam cerita Pramoedya tapi
diri mereka yang ikut kemana pun angin
bertiup. Ikut arus. Satu lelaki baik tapi tak cukup untuk dicintai. Teman
terbaik sepanjang masa. Seorang Raksasa omnivora berhati lembut. Secercah peri
yang jatuh bangun menata sayapnya. Mereka yang bahu membahu mencari jejak
serbuk hilangnya sosok-sosok kurang waras yang merayap ke alam antah berantah.
Dengan segala upaya beberapa makhluk diatas mampu ditemukan dengan rayuan homo
gombal dan sihir maut agar semuanya berkumpul jadi satu.


Musim kembali berganti, hati kembali mencari muasal. Lambat laun mereka
merapat. Bercengkrama. Senda tawa gurau. Tumpahan serapah dan pujian hina
kembali termuntahkan. Hidup yang perak kemilau dengan garis hidup serabut namun
semua menjadi satu dalam satu musim. September yang kembali menyapa..