anti cengok di Changi

Ringsek
sumingrah. Setelah empat jam pusing-pusing di airport serba percuma ala Changi
Airport, Singapura, akhirnya seorang puan Melayu blasteran Manado beserta
seorang teman asal negeri keraton namun lama menetap di Bukit Tinggi,
memutuskan masuk ke ruang tunggu. Masa bodoh mau dibilang orang pesisir atau
apalah itu namanya, mereka ngemper di bilik itu.


Jeng Endang,
begitu sebutan si Puan pada karibnya, sudah tidak mengubris pandangan orang
sekitar yang dari tadi aneh melihat kelakuan dua gadis Asia
beda negara. Kaki dan betis cah ayu pegal bukan kepalang karena dari
tadi sibuk berbelanja barang bebas pajak dan anti palsu di bandara ini. Kopernya
sudah penuh dengan buah tangan sampai buah dada saking terlampau banyak yang
diboyong untuk handai taulan tulen di tanah air.
 


Kenapa kita pe torang tidak tiduran di snooze chairs disana saja,
Jeng Endang?“ tanya Puan asal Malay tetap berlogat  Manado.

 
indak ba’a ko uni,kulo ndak tahan silau! Lagipula ambo
ora iso
bebas turu seperti ini” sahut si putri kraton dengan bahasa
campur sari RM sederhana vs RM wong solo.


Berbeda sekali dengan di Indonesia.
Kalau ada kursi gratis seperti ini bisa dipastikan semua orang berebut dan ngantre
untuk rebahan di kursi malas itu. Kalau tidak gratis, pasti dijaga oleh mas-mas
SPB dan mbak-mbak SPG berlakon bak dokter dadakan dengan kemeja praktek putih.
Bentuknya tidak akan jauh beda dengan pemandangan  promosi kursi pijat di
PIM 1 lantai dasar dekat Baskin & Robin’s. Tapi di Singapura, fasilitas ini
dapat ditemui dari ujung kaki sampai ujung kepala di tubuh bandara. Gratis.
Obrolan dua insan tadi pun berlanjut mengenai airport Changi yang sejak pagi
sudah mereka bedah.


Kaki keponakan langsung Mbah Jum yang pegal itu
sebenarnya sudah sempat dipijat di The Oasis di lantai dua. Lagi-lagi gratis.
Bermodal kursi pijat otomatis, dua manusia antah berantah asalnya ini
menghabiskan waktu seenak jidat.

 

Tiba-tiba sang Puan perawan pemilik resto Nasi Lemak ala
baku dapa teringat tempat pijat di ruang tunggu Bandara I Gusti Ngurah Rai,
Bali. Disana ada juga layanan pijat refleksiologi murah meriah. No plus plus.
Dengan merogoh kocek 20 ribu rupiah, 20 jari sudah bisa dipijat selama 30 menit
dengan bantuan mbak-mbak pemijat. Meski pijat seadanya, namun manjur membuat
jeng Endang tertidur sejenak dengan mulut menganga. Mereka berdua
terbahak-bahak bak inang-inang.


"Hmm.. berarti sewu perak buat satu jari. ya
toh
?" sejenak pikiran medit asli Padang mulai menjejali pemilik
wajah mirip Ratu Pantai Selatan, yang masih sempat itung-itungan dengan kaki
senut-senut sakit gigi. Yah, namanya juga sudah lama tinggal di Bukit Tinggi.


“Tumben mbak yu,
biasanya main internet sambil nunggu boarding.” tanya Endang basa basi biasa.


“Kita pe punya mata so
perih, tahu sendiri tadi kita sempat main games di iConnect di lantai tiga.
Seronok kali ya tempatnya! Ododoe,nyandak salah maso to ini, pe sepi skali
kwa
, jadi kita jo orang bisa kebagian main Microsoft Xbox percuma.
Cuba di Jakarta ada game center free seperti ini. Tak perlu masa nunggu delay
lah!
” si Puan ngomong panjang lebar.


“Yaa..kalau ada di airport Jakarta, paling keseringan out
of service, mbak yu
." sahut jeng Endang.


“Bah! Tapi kan bisa dibuat dengan sistem bayar seperti
Nexus Lounge di lantai tiga, yang sebelahan dengan iConnect itu” kata si Puan
yang tak sengaja berlogat Batak tanpa diminta.


“Tentu. Tapi pasti mahal abeeees. Wong di tempat
biasa aje, satu koin harganya bisa 5 sampai 10 ribu perak. Kalau di bandara ente
mau bayar berapa?” Endang kembali men-smash pertanyaan yang kini dengan
bahasa Betawi ABG.


"Ha..ha..ha..ngana pe mau bayar 30 ribu per
satu koin!? Mending kita pusing-pusing jo di pasar senen” jawab si Puan
Manado makin campur aduk.


Tidak terasa obrolan santai berapi-api bertubi-tubi
muncrat mancrit habis ditelan waktu. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari
pengeras suara, pesawat dua anak rantau itu tertunda keberangkatannya dua jam
karena masalah teknis dan cuaca buruk. Menunggu di Changi airport?  Geen
probleem..


Masih
dengan posisi tiduran, duo partner in crime itu bergerumul untuk kembali
merajah badan bandara. Akhirnya mereka memutuskan untuk mandi sejenak di
Rainforest Lounge yang masih berada di terminal yang sama, lalu ke Movie
Theatre, bioskop cuma-cuma 24 jam, letaknya satu lantai dengan game center.


“Tunggu 15 menit lagi ya, masih pengen leyeh-leyeh
nih!” kata Endang.


“ OK! Oia jeng! jangan lupa so bayar
utangmu, wang ngana masih sama pe orang, tadi jo pinjam
buat main di Nexus Lounge” sahut Puan tak kalah pelit.

 

“Siap, bos!”
tandas Jeng Minang, Endang.

 

 

 courtesy: seventeen indonesia Jan’06, 104-105

 

 

 

Leave a Reply