sarang mungil

Malam
kian larut ketika pisang merah melaju membelah labirin sempit. Tak lama,
singgahlah dua perantau malam di sebuah sarang mungil. Suasana sunyi senyap.
Gelap temaram mengelilingi sekeliling. Sarang mungil sederhana namun hangat
dengan orang-orang di dalam yang mampu memendam kebisingan kota dari
roda-roda raksasa dan cemooh mulut-mulut kasar. Tak perlu banyak bicara, dua
perantau malam segera menghampiri. Ruangan memanjang yang membentang tampak
rapi dan bersih dari kotoran. Dua dudukan empuk tak terduduk oleh siapapun.
Kiranya sang nyonya sudah masuk ke bilik. Ternyata tidak. Pintu berdecit ringan
dan tampaklah tiga generasi di dalam. Senyum lembut mengulas gincu murni
si pemilik. Rona paras terlihat lelah diiringi garis-garis manula nan tegas.
Dia, sosok perempuan ningrat dilapisi kain batik untuk ke alam mimpi. Sapaan
hangat meluncur dari deretan gigi dan gema suara yang lirih karena takut
terkontaminasi dengan keriwehan dunia luar.


terima kasih sudah mau mampir ke gudang kami”

Ah!
Beliau sangat pandai memilih huruf untuk dijalin. Gudang yang lebih mirip surga
kehangatan makhluk-makhluk dengan tutur kata santun dan bersahaja.
Seorang makhluk mungil yang baru beberapa bulan lahir ke muka bumi juga tak
jauh beda dengan generasi sebelumnya. Kelak ia pun akan berwatak anggun bak sang
moyang. Bergaris muka halus, beruntai kalimat berkilau mutiara.

Cacat
selalu ada di setiap lingkup kehidupan. Mungkin dunia yang sudah semakin sadis,
salah satu makhluk dari sarang itu memang berwajah kemayu. Ada satu hal yang
tak boleh terlewat. Ia bengis. Yah, mau
dikata apa, meskipun lahir dari rahim yang sama tapi watak itu terasah dari
keringat dempulan asap kota dan penyakit otak yang doyan mampir muter-muter.
Ucapan suka tidak terkontrol, buyar namun tetap berarti. Menohok memancarkan
kekecewaan dan teriakan impian tersulam sempurna. Makhluk aneh, lama-lama ada
juga kesamaan dengan yang normal. Ia tidak suka diremehkan karena gadis pasar
ini encer dan lentikannya lebih cepat dari sambaran petir di bulan kelabu. Keberatan
jika disinonimkan dengan gadis langsat ketika sosoknya harus menyeka gumpalan
air tubuh yang lewat diatas bekas jahitan tepat di kepala yang dulu sempat disenggol kotak
sabun raksasa. Hah! Apa salahnya dihilangkan sedikit agar tak menjadi kerikil kecil non
permanen, untung ia bukan batu bersemedi pembuat gusar.

Entah
sudah berapa lama perantau malam berada disarang itu, tampak belum boleh
beranjak pamit oleh nyonya ningrat. Si gadis pasar hendak ikut serta bersama
mereka, tolakan mentah pun diterima. Mau bilang apa kalau sejak dahulu kala tidak
ada sepercik kata mengiyakan untuk memondok di tempat orang, toh punya gubuk
sendiri. Dan malam ini dengan perasaan tergesa-gesa hendak ikut bersama
perantau malam meskipun ada makna jelas yang terkandung. Masalah
kevaliditasan yang nyaris membuat manusia bunuh diri karena tak seorang pun membantu.
Hanya kerelaan seorang gadis pasar ini akhirnya ada titik terang yang
membayangi di tengah kesuraman batin.

Misi mulus sama saja dengan memperlebar durasi duduk. Waktu seakan berhenti ketika sultan yang
mengepalai sarang muncul. Sanggar. Berhati lembut. Lantunan wangsit
dari bibir hampir tak terdengar. Daun telinga dipasang sementok mungkin
supaya wangsit panjang lebar yang wajib didengar kalau perhelatan tak mau bubar
jalan, sampai ke otak. Perkara sepele dan sering terngiang tetap harus disimak.
Cerita punya cerita tidak dinyana ada kemiripan pada orang-orang yang dikenal
satu sama lain. Dunia hanya secuil daun mangga. Seperti apa pula besarnya?
Entahlah. Yang pasti sang baron akhirnya mengalah merelakan little missy si
gadis pasar itu dibawa oleh perantau malam. Perantau malam tak habis pikir, ada
saja kebetulan datang menghampiri. Mulus bersanding dengan jalan tol.

Malam
sunyi sendiri. Bunyi jangkrik menemani di tepi kisi-kisi daun yang sejak
tadi berhembus bersama racun kimia. Labirin sempit dilewati kembali, menyeruak
meninggalkan sarang mungil yang makin lama kian ditutupi oleh tumpukan dedaunan
dan tanah beton serta gemerisik angin suntuk pengaduk perut. Sarang mungil sudah
ditinggalkan. Sarang mungil yang membekas di hati dua perantau malam.   

6 Responses to “sarang mungil”

  1. Harison Says:

    berbulan2 aku nunggu tulisanmu De…ternyata…..

  2. ade putri Says:

    ternyata ga setimpal spt yg ditunggu ya? hehehe kurang pol nih! hah makanya lamaaaa, yah dinanti kritik nya ye

  3. Harison Says:

    ternyata….gue gak ngerti apa yang lo tulis…de…aku merindukan prosamu yang lebih ‘bersahaja’…..

  4. Titiw Says:

    Iya.. aku juga ga ngerti yang ini….

  5. anggie Says:

    aduh biyung,,dasar kau anak sastra tulen,,gw ga ngerti,,ga nyampe otak gw,,maklum gw anak sastra kecelakaan…hehehe..tp seneng jg pnya tmn yg pnya selera menulis setinggi loe,,,keep it up darl!

  6. ade putri Says:

    ah semua orang binun sm yg ini, gpp lah tunggu smp yg gw maksud baca blog ini mg2 dia ga binun jg hehe! thank you babe, ga terlalu tinggi laaa..

Leave a Reply