gadis bersayap

Dia seakan tahu segalanya tanpa
harus diucapkan. Tak hanya sekali. Ketika menangis, tangannya akan menghampiri
mengusap hati. Tatapannya membuat malam menjadi pagi. Ia bukan malaikat. Ia
hanya gadis bersayap, tapi tak mampu terbang. Sifatnya sama seperti gadis polos
lain. Kadang murung membuat hari menjadi berkabung. Kadang ceria, membuat bulan
tersenyum di kala siang. Semua makhluk selalu bersamanya.
Sayapnya mampu menyatukan
magnet sesama kutub, menghangatkan jiwa yang sedang kalut, tempat bersandar
ketika bantal tak ingin membantu tidur. I
a selalu ada.


Malangnya gadis bersayap tak mampu mencintai makhluk. It’s in her blood. Sayapnya
mampu membius segala suka cita menjadi amarah dan murka. Jangan pula harapkan
kehadiran sayap emasnya ketika sedang tak butuh. Karena ia tak kan muncul. Jikalau
menemukan, petaka akan hinggap bersama. Merekat erat seumur hidup
dunia. Ia hanya bisa terpana, kenapa hanya dia yang bisa dicintai tapi ia tak
mampu membalas kembali. Tanpa sengaja ia menyakiti pemilik hati yang tulus
membagi. Dengan sekedip mata, hati terbelah tiga. Koyak. Sering juga berceceran
sampai tak sanggup untuk dipungut dari dasar bumi. Ada yang menangis, menjerit,
ada pula yang bungkam. Banyak yang pergi, tak sedikit yang mencoba kembali.
Semua nihil. Gadis bersayap tetap akan melukai. Walau tanpa hati. 


Semua resah karena ketika ia mulai melepas sayap, orang sekitar
menjadi sangat takjub dan tak melihat sebagai sosok normal. Ia manusia,
bukan siapa-siapa. Ia hanya ingin dianggap biasa. Dengan atau tanpa sayap. Ia
menangis dalam keramaian namun tak seorang pun dapat melihatnya. Mengapa tiada
yang mengerti dirinya? Kelompok perjaka gelisah karena tak mampu mencintai
apalagi memilikinya. Bagaimana mungkin mencintai tanpa harus memiliki, itu hanya sebuah
dusta. Dusta terparah di jagat negeri.


Gadis bersayap. Serupa burung tak sama bagaikan gunung. Ia belum juga
menemukan kekasih sejati, ia tak ingin mencari karena ia tinggal memilih.
Memilih dalam kegelapan. Entah sampai kapan. Meraba kehampaan. Kadang merangkul
kesenangan semu tak berujung. Sayapnya mulai usang, tapi sinarnya akan terus
berkembang. Ia tetap istimewa. Tawanya akan terus bergema memanggil kesejukan
dunia.


Memang gadis bersayap serba salah. Jika memberi jangan terlalu banyak
berharap untuk berbagi. Diamlah sampai waktu muncul di ufuk tenggara
dimana tidak ada matahari dan bulan hinggap disana. Saat yang tak terduga. Saat diri tak lagi merenungkan sayap serta sibuk dengan dunia. Siapa tahu ia datang
menyapa. Sepenggal sapaan hangat akan membuat jiwa menangis kegirangan. Tak ayal pasti akan memeluk, mulut akan tersungging
ke kiri dan kanan. Barisan dongeng tanpa henti bergulir.
Sekelilingan buram. Buta. Tanpa sadar hanya akan menyaksikan dirinya
seorang. Entah dianggap aneh atau sakit
jiwa, hal itu tak menjadi persoalan. Itu hanya omongan orang. Orang yang tak
mampu menangkap sibakan sayap emas meski jarak tak lagi memisahkan.


Gadis bersayap, tak mampu melumpuhkan sayap. Biarkan tetap ada
karena itu yang membuat istimewa. Jangan coba melupakan, karena ia tak
akan pernah sirna, ia selalu ada jauh di dalam sanubari manusia-manusia bumi.

One Response to “gadis bersayap”

  1. Harison Says:

    gadis bersayap, kenapa tidak kau gunakan sayapmu terbang bersama perjaka yang tak bersayap?

    Untuk sama-sama terbang, tak harus masing-masing punya sayap. Cukup gadis saja yang punya sayap. Dan sang perjaka ikut terbang dengan menjaga keseimbangan.

    Kalau, perjaka tak banyak tahu soal keseimbangan, bukankah gadis bersayap bisa mengajari soal keseimbangan.

    Untuk bisa terbang, tidak selalu butuh banyak sayap. Hanya butuh sepasang sayap dan keseimbangan.

Leave a Reply