Archive for March, 2007

A D E

Monday, March 19th, 2007

Harison Haris
march 05, 2007

Pada
mulanya adalah alis. Alis yang tebal. Alis yang sempat membuat mataku
tak tahu diri. Bukan berarti mataku adalah jenis mata yang melulu tahu
diri. Tapi saat itu, saat pertama melihat alis tebal itu,
ketaktahuan-diri mataku mencapai tabiat yang paling menggelisahkan.


Aku
tak malu-malu mengakui alis itulah alis terbaik yang pernah kulihat di
UI. Bentuknya pas dengan separas wajah yang nyaris bulat, yang kadang
dihiasi dengan sedikit jerawat. Dan mata yang kadang menyipit. Dan
rambut lebat yang membuat daun-daun telinga seolah absen. Semuanya
adalah paket yang menyehatkan mata. Mata yang tak tahu diri.

Sepertinya
keputusanku menobatkan alis tebal itu sebagai yang terbaik di UI –yang
membuat mataku tak tahu diri— itu adalah sebuah keputusan yang
terburu-buru. Sembrono. Tapi aku tak takut diolok-olok dengan
keputusanku itu.

Di
UI, terutama di FISIP, banyak alis indah atau di-indah-indahkan. Dan
aku tentu tidak bisa mengelak untuk mengakui bahwa banyak sekali
alis-alis indah berseliweran –sesering lalu lalang kendaraan yang
melintas di Margonda.


Ya,
pada mulanya adalah alis. Kemudian wajah yang tampak bosan dengan
berbagai celoteh dosen di kelas. Kadang dia menguap. Kadang dia
menyandarkan kepalanya di lembaran papan yang satu paket dengan kursi
kelas. Selebihnya adalah ketelatenan. Ketelatenan yang mengagetkan.
Semua hutang dia dengan rapi dibariskan di sebuah buku mungil. Juga ada
catatan remeh-temeh lainnya. Sepertinya, si pemilik alis tebal ini
sangat terlatih menekuri hal itu. Termasuk menyimpan nomor telpon yang
belum tentu pernah ditelpon.

Beberapa
hari yang lalu, atas bantuan kawan, aku mendapatkan nomor telpon si
pemilik alis tebal ini. Aku menelponnya. Panggilan telponku tak
mujarab. Beberapa menit kemudian dia baru mengirim SMS:

Wazzup mas har?! Aku br bgn tdr. Td nlf ya

Aku
kaget dengan kekagetan yang tak bisa ditukar dengan jenis kegagetan
yang lain. Dari mana dia tahu aku yang telpon? Ingatanku memang tidak
handal, tapi masih cukup handal kalau hanya sekadar mengingat siapa
saja yang pernah minta nomor HP-ku. Dan dia, si pemilik alis tebal itu,
bukanlah orang yang pernah minta no HP-ku.

Tapi
kekagetan dalam stadium yang lebih tinggi aku rasakan ketika suatu hari
dia memulai debut sebagai blogger di Friendster. Dia menulis tentang
aku, dengan detail yang membuatku merasa malu: betapa orang yang
kuanggap cuek-bebek dengan orang lain itu ternyata orang yang dengan
cermat dan seksama mengamati orang lain. Aku terharu.

, Aku coba kutip  tulisan wanita beralis tebal itu:

….Sebuah
penggalan kalimat medok yang keluar dari mulutnya dan membuat saya
terbahak-bahak: "De, jangan tersinggung, ya. Saya menunggu cukup lama
untuk menanyakan hal ini sama kamu. saya penasaran sekali, sebenarnya
alis kamu itu asli atau nggak? abis tebel banget.." yah selebihnya saya
kurang inget, daripada saya tulis taunya bukan kalimat seperti yang dia
bilang waktu itu, ntar malah jadi fiksi…..

 

Setelah
itu, karena kesalahpahaman virtual, dia menulis blog lagi tentang
diriku. Aku agak malu mengutipnya karena isinya semua serba bagus. Aku
kira, aku tak seindah itu.

Pada
mulanya alis, dan akhirnya sore ini. Dia persis duduk di sebelahku di
kantin psikologi UI. Tak ada jarak. Rapat. Baik secara fisik maupun
psikologis. Dengan terus terang dia mengaku mengantongi uang dua ribu.
Sebuah pengakuan yang mengharukan. Selebihnya: adalah sebuah obrolan
yang semakin mempertegas kepongahanku.

Ade,
adalah manusia yang tidak hanya punya alis tebal. Tapi manusia yang
hangat di sore hari. Dan akan semakin hangat di waktu yang lain.  Ya,
jujur saja, tulisan ini tidak berbicara soal alis yang tebal. Tapi soal
kehangatan yang tak tipis. Berlapis-lapis. Dan itu adalah milik Ade.
Ade Putri.

Seseorang Ingin Menari 2

Monday, March 19th, 2007

reski_anto


Wed Feb 21, 2007 3:07 pm


dear, Ade Putri Nurgrahani

akulah jamur atau benalu saja
di sebatang pena ku hidup
setidaknya, ku hias sebakul
masa dengan metafor dan pintu-pintu
hendak selalu terbuka

Ade, bagaimana lalu hati mu?
kau tlah jarang merangkum:
kata-kata pada sajak,atau hei
kau tumbuhkan bunga-bunga
lagi di rambut mu, warna merah
menarik, "setelah dulu wanginya
kini lengkap dengan warnanya"

ya, pintu-pintu itu memang terbuka
aku menjadi pak janggut, mengitari
atau berjalan saja "membawa bekal karena
aku memang sedang dalam perjalanan"

Ade, sebijak apapun itu - kau pasti
ingat sahabat-sahabat: mereka tidak menganakan
sayap peri-peri namun melihat mu - dengan
jujur dan semestinya, membuat mu ringan
melukis keputusan di awan

mungkin belum saat ini menarinya
seperti waktu itu pernah kau tulis
(dalam bahasa inggris) - kau rangkum saja
lagi - tuang dengan senyum manis mu
dan kebesaran hati

"entah kenapa aku terlihat seperti anak kecil
di hadapan mu"

ya, Ade, seperti putri nanti
kau pun akan menari, Amin

*okky_merindu*
mamah Ade
semoga tidak seabstrak
seperti yang pertama yaa hehe
semangat menjaga si Dami yaa :)

Seseorang Ingin Menari

Monday, March 19th, 2007

reski_anto
Thu Jan 4, 2007 10:28 am


*Dear, Ade Putri Nurgrahaini

di teras waktu
pagi-pagi
tanpa kopi dan redup mentari

desir alir menuakan angka,
jam tangan mu?

"ia menunjukkan ku jalan
ke sebuah rumah, saat hari
kelahiran seseorang di beberapa
tahun lalu"

boleh aku bercerita tentang sayap?
padahal kau tak terbang
hanya bekerja, kekasihnya belum datang

entah kenapa ia bercerita tentang seledri

"ah, kau belajar di belanda,
lebih baik ceritakan pada ku tentang keju,
seledri?, hmm.."

seperti ada peri di matanya
dan wangi bunga tumbuh di rambutnya
aksara-aksara nya pun cantik
mempertemukan bibir dan senyum, derai tawa

sebagaimana kisah,
mengurai apa yang sebenarnya mungkin dan tidak, lelaki

dan catatan-catatan sejarah
serta gincu berwarna merah

seseorang ingin menari



*okky_merindu*

Besar rasa terima kasih ku De,
untuk nasihat-nasihat mu di berbagai
medium pesan, yang mereduksi luka
hingga sirna, mari bersemangat di
tahun 2007, Jiayou Ade!,
walau sibuk sempetin curhat lagi ya bo :)

papan depan

Sunday, March 11th, 2007

ia kembali bersemedi.
lampu-lampunya mati. tak ada lagi berisik karaoke-an di malam suntuk. sekilas
hanya tampak lampu teras  menghiasi depan rumah agar tampak berpenghuni.
nyatanya tidak. paling hanya hantu-hantu penghuni tetap yang akan menjaga rumah
itu.

sudah 4 hari keheningan berlangsung. jika melihat tembok birunya, banyak
kenangan indah penuh misteri di dalamnya. sudah 11 tahun ada di depan muka saat
pertama kali berkenalan dengannya.

saat itu dibangun oleh kalangan pembuat "rumah kota" yang kini menjamur di seantero jakarta. kalau dipikir-pikir inilah yang original.sedikit bangga tidak salah rupanya.
dua orang suami istri hendak mencari tempat bernaung yang lebih nyaman. sudah
sumpek sepertinya berada di jantung kota
yang riweh. pastinya angin surga yang membawa mereka ke tempat ini untuk
mencari suasana baru. tak terlalu ramai, tetangganya punya antek-antek yang
seumuran, dan kebetulan rumah depan dihuni oleh salah seorang teman sekolah
dulu. makin akrab lah mereka.  setelah itu tak perlu dijelaskan lebih
lanjut, yang pasti semua barikade diboyong ke rumah ini.

tapi hal itu tak berlangsung lama. belum ada 2 tahun ditempati, semua harus
pergi. ke pulau lain nun jauh disana. sedih sekali. apa mau dikata, semua harus
beranjak.

ia mulai dijajaki kaki-kaki lain. dipinjam oleh  ras kaukasian,
peminum  bir. lantainya jadi kotor dan bau amis. tembok-tembok cemberut
memaki tiada henti. botol-botol menghiasi dapur berjejer rapi berseri-seri.
isinya cairan edan pembuat otak miring. mereka tertawa riang siang dan malam
selama hampir setahun lamanya. dan akhirnya berhenti setelah kontrak habis.

tak ada banyak waktu bersemedi, ia dilabur lagi. kali ini yang menempati wanita
mesir. lukisan kucing dan piramid digantung disana-sini. apik dan penuh misteri.
masa-masa gelap menyeruak.lampu selalu terpasang redup. pegangan pintu nyaris
tak pernah tersentuh. jarang ada yang keluar dari situ. hanya celah debu dan
sela-sela udara yang mampu menembusnya. pancaran sinar seakan tidur panjang
bagaikan putri salju.

ia merindukan penghuni asli. sampai pada abad ke 21, rombongan itu muncul
kembali membawa sensasi. rumah ceria dirombak sedemikian rupa tampak mempesona.
ternyata duka sedang meliputi yang punya. bersandar pada dirinya agar tak
terlalu terbius kesedihan semata. ia lihat manusia berurai airmata ditinggal
yang tercinta. kadang tak henti melamun dan menerawang. kadang mengucap doa
kepada sang pencipta di tengah malam, atau mendengar obrolan rahasia yang hanya
dirinya yang bisa mendengarkan.

hidup dimulai kembali. pagi menyiram bunga, dilanjutkan dengan sore bertandang
main kerumah tetangga dan malam memanggil pedagang kaki lima, semua dilakukan bersamanya. ia senang. ia kembali hidup walaupun diselingi dengan  air mata ketika
makhluk-makhluk berbulu mati di badannya. makhluk yang ia kenal lucu dan
kemudian beringas harus meninggalkan dunia dan kembali ke tanah. ia kembali
menyimak sejarah ditato dalam batinnya. alat-alat baru mempercantik badannya,
pakaian elok membalut tubuhnya, canda riang dan jenaka yang berlalu lalang
bersama waktu yang terus mengalir deras.

sampai pada suatu ketika, seseorang hendak merantau untuk waktu yang tidak
lama. semua berpikir untuk meminjamkannya kembali dan  bersandar pada yang
lain. temannya yang lebih besar dan sama-sama lahir bersama 20 tahun lalu,
menjadi pilihan terakhir untuk ditempati. kenyataan yang pahit. kenapa bukan
dia yang terpilih untuk ditinggali oleh yang asli? kenapa harus dia dengan
orang lain?

tubuh mungilnya memang mampu menyedot perhatian sang pemburu. tawaran untuk
dimiliki sepenuh hati pun banyak terlontar. semua ditolak. ia tahu, pemilik
asli sangat mencintainya. itu rumah pertama yang ia punya. jadi cukup
dipinjamkan saja.

dan jatuhlah pilihan. ia kembali dipinjamkan. kali ini kepada seorang nenek tua
pemilik rumah sakit. nenek lincah tanpa suami. hidup bersama pasangan suami
istri yang bukan mantu ataupun anaknya sendiri. nenek yang bahagia, memiliki
dirinya yang mungil dan bersahaja. ia senang lampu selalu terang.
barang-barangnya banyak. bingkai-bingkai figura berjuntai dimana-mana. layar
kaca selalu hadir bersamanya.

namanya juga sudah tua, suatu hari nenek terpeleset di kamar mandi. sakit
sekali. semua perabot terkejut. apakah sendu akan menyelimuti lagi. nampaknya
tidak. nenek sehat kembali. nenek doyan arisan, karaoke sampai malam,
bercengkrama dengan anak, cucu dan mertua, semua nenek lakukan bersamanya.

menjelang tahun kedua nenek murung. nenek tak mampu menyelimuti kegalauan.
nenek tak bisa terus menerus tinggal bersamanya. ongkos pinjam meminjam tidak
semurah biasanya.nenek mulai mengepak teman-temannya saru per satu. muka nenek
tidak sedap. tidak ada senyum di bibir nenek. nenek suka menangis sendiri
karena harus pergi ke tempat yang nenek benci meskipun tetap dengan pasangan
suami istri.

penghuni asli
tak dapat berbuat banyak karena juga butuh lembaran kertas mahal untuk makan.

malam ini ia kembali sendirian, dibuai angin dingin yang kadang bertiup
lantang. cahaya sinar menemani di depan hidungnya. tidak ada suara-suara
penghibur telinganya.

entah sampai kapan ia akan terus seperti ini. tapi yang pasti ia akan segera
berpenghuni..

 

sang putri

Thursday, March 8th, 2007

seorang putri
ditinggal sang pangeran seorang diri. habis manis sepah dibuang. tak ada angin
tak ada hujan, sang pangeran berkuda jauh pergi ke seberang. sang putri hanya
duduk terdiam, meratapi nasib yang hilang. mukanya sembab dipenuhi ulat bulu
yang membuat gatal wajah. candu cinta membawa petaka. kesetiaan manusia terbawa
nestapa.

para kurcaci dan
hewan-hewan hutan tak pernah berhenti menghiburnya. kadang mereka membawa sang
putri berburu mencari ayam lalu dimasak bersama. dibakar dengan bumbu sedap dari
semak belantara.

di waktu lain,
seorang kurcaci berdendang untuknya dengan lagu-lagu lawas. ya, sang putri
sangat suka tembang kenangan. mengingatkannya pada masa lalu yang kelam. oh
tidak, memang terkadang kelam namun menyenangkan untuk ditimang-timang. sang
putri dapat menyanyi dengan lantang walau diiringi dengan deraian air mata yang
tak kunjung padam.

kumpulan kelinci tak
pernah berhenti menemaninya di kala siang dengan pekerjaan rumah yang banyak
tertunda. tertunda karena terlampau banyak melamun di depan jendela, menanti
sang pangeran yang mungkin tak akan pernah kembali.

semua memang sedih
melihatnya. namun ada juga yang acuh tak acuh dengan sikapnya. seorang kurcaci
kadang hanya mampu menatapnya tak mampu berbuat banyak terhadap sang putri, takut
ia terluka lebih dalam. ia biarkan sang putri melalui hari-harinya tanpa
gangguan. biarkan ia sibuk dengan segala khayalannya.

kicauan burung gagak
di kala petang juga tak kalah berkoar, bergosip dan menyebarkan dosa tak sedap
pelepas dahaga makhluk nista. banyak prasangka banyak bermuram durja.

ibu peri pun tak
mampu berbuat banyak. ia memang peri, tetapi ingat kisah negeri di atas awan,
seorang peri tak mampu membuat makhluk jatuh hati pada siapa pun. ibu peri
banyak menjaga sang putri dengan cerita yang kadang tak lucu namun membuat haru
karena ibu peri tak menyerah menghibur sang putri dengan tangannya yang kadang
suka melayang memberantakan barang-barang di sekitarnya. itu yang membuat sang
putri tertawa. ya, ibu putri sudah tua tetapi tidak hinggap di jendela seperti
burung kakak tua.

sang putri lah yang
suka mengelayut di bingkai jendela kamarnya memperhatikan hujan turun sembari
menghirup teh hangat kesukaannya.

"com..com..com"
ujar sang putri.

teh hangat
kesukaannya. sang putri hobi minum teh. daun teh asli yang selalu di datangkan
langsung dari kaki gunung wangi. dibawa oleh rombongan saudagar yang melalui
pondok sang putri setiap sewindu sekali. nikmat tak terperi. mampu membasmi
luka perih sang hati. kadang sang putri minum dari daun teh asli, kadang ia
minum dari hasil buatan tangan seorang pemintal daun teh yang handal membuat
daun teh menjadi ramuan yang langsung dapat dihirup dingin maupun panas. 

namun, ketika hati
sudah sedikit terobati, datanglah penyakit yang lebih hakiki. sakit ketika ia
ingin berbicara dan menghirup udara. rasanya sesak di dada. itu akibat ulah
sang putri yang hobi tidur pagi. melamun dan menonton kelinci menghibur diri di
kamar mandi, mendengarkan jangkrik malam bernyanyi sengau di keheningan malam,
atau sekedar memaki-maki lolongan anjing di pagi hari ketika ia hendak ke alam
mimpi. siapa suruh tidur pagi-pagi..

banyak pencari kayu
mahogani yang suka mengingatkan sang putri agar jangan terlalu sering
manut-manut di jendela seperti teman kecilnya yang berambut panjang. teman
kecil yang telah diselamatkan seorang pangeran dari atas menara istana lewat
rambutnya sendiri. sang putri tak pernah mengubris omongan para pencari kayu
mahogani. ia memang mendambakan rambut panjang. ia berharap suatu hari ada
pangeran yang berhasil naik ke peraduannya hanya dengan menaiki helai rambut
merah sang putri hasil olesan minyak biji cherry buatan pasar karnaval 1001
malam yang sekarang berubah menjadi keemasan menyaingi mentari siang bolong. ia
tak mempedulikan pangeran usang atau baru. tapi apa daya, tak seorang pangeran
pun ada di depan matanya. hanya kurcaci-kurcaci tak berkelamin yang sering ia
temui, atau pencari kayu yang sudah tua renta dan rombongan saudagar yang gemar
melanglang buana tak tentu arah ke belantika negara orang.

entah merpati
mana yang pada hari itu ingkar janji, mengingat semua makhluk makin tua makin
pelupa, sepucuk  surat datang terhantar di pangkuan sang putri. hatinya tersenyum walaupun awan sedang
mendung. sehelai lebaran tipis dari kulit mutiara mengingatkan ia kembali pada
seorang pangeran lain di masa lalu. pangeran yang sudah lama menjadi karibnya
namun sirna karena diboyong permaisuri membangun istana di bawah samudera.

parasnya mirip
pangeran masa lalu sang putri. soal perangai dan hati, ah..tak perlu dibahas
disini. biarkan itu menjadi rahasia sang putri. tak satu pun makhluk yang dapat
menghakimi tabiat manusia.

tak tahu harus suka
cita atau malah berduka, ternyata sang pangeran telah pulang ke daratan. ia tak
mampu tinggal di lautan yang memang bukan dunianya. sang pangeran memang sedih.
sedih dan kesepian. cinta yang ia kira abadi harus putus di tengah deburan
ombak. ia sempat mengais-ngais pasir pemisah bumi dan air. meratapi nasib
fatamorgana layaknya garis pantai di tengah lautan.

tak banyak yang tahu
tentang hal ini, yang pasti sang putri merasa ada yang menemani. ia tak seorang
diri di bumi. kerutan sedih di matanya yang sering menerawang merah terbasuh
air mata berangsur-angsur sirna. ulat bulu yang senang membuat bengkak paras
mata, sedikit demi sedikit hilang terbawa angin.

tampaknya sang
pangeran kembali sibuk menata diri.mengumpulkan serpihan-serpihan hati, mencoba
mendekati sang putri mungkin untuk teman berbagi. sang pangeran telah membangun
istananya sendiri untuk mencari seorang putri baru yang hendak dipinangnya. tak
ada dalam pikirannya dalam waktu dekat ini akan bersama sang kekasih sang
pujaan hati atau menunggu sampai matahari terbit di ufuk barat untuk menanti.

keduanya belum sempat
bertemu hidung. yang satu di pondok hutan, yang lain ada di persemayaman bambu
hijau yang bertetangga dengan sinar sang surya. berinteraksi dengan lembaran
ilusi. keduanya enggan di sakiti kembali, tak ingin di tinggal lagi. keduanya
seakan saling menunggu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. apakah cukup
dengan helaian kapas setiap waktu atau dapatkah ditambah dengan berlayar ke
pulau madu.

yang pasti mereka tak sedang di madu, tapi hanya menunggu.

apakah sang pangeran kesepian akan bersatu dengan sang putri yang
tertinggal? kita tunggu saja kisahnya berlanjut.

karena sang penyair tak mampu berkata banyak..