Archive for February, 2007

kehidupan malam

Monday, February 26th, 2007

Ruangan terasa hangat meskipun malam itu sempat diterpa hujan. Beberapa
mengira sang maestro tidak jadi datang, yang lain masa bodoh. Tampak beberapa
muka manusia "hangus" di titik wajah tertentu akibat ultraviolet yang
dibiarkan bermanja-manja di mukanya sejak pagi hingga tengah hari.

Penagih hutang tetap sibuk dengan aktifitasnya menagih sepuluhribuan yang
sudah disepakati 13 orang yang berhasil dikelabui guna kelangsungan liburan
tengah tahun ke suatu tempat entah dimana. Yang penting uang terkumpul. Masalah
uang dibawa kabur, itu urusan nanti.

Seorang hedonist berkulit gelap keunguan dengan inisial BK alias botol
kecap, sangat menikmati dibuai oleh dua perawan. Ia merindukan belaian kekasih.
Maka dipilihlah buaian palsu untuk memuaskan dirinya. Gratis walaupun tak
memuaskan birahi.

Seorang lajang telah hilang "keperjakaannya" ketika sang penagih
hutang dengan telak mengeluarkan cairan dari kepalanya. Itu akibat dari tidak
membayar iuran padahal masih ada uang di tangan. Jalan pintas ditelan
bulat-bulat tanpa tedeng aling-aling. Perjaka tak dapat menghindar. Hanya bisa
pasrah. kata-kata indah "bajumu bagaikan pelangi" tak mampu merayu
tabiat penagih hutang yang sudah dari sononya.

Seorang dengan wajah menyerupai tokoh Suneo-Doraemon setengah gila, berhasil
mengobrak-abrik penampilan si penagih hutang. Ia gantian hanya bisa pasrah.
Orang setengah gila memang susah diajak bicara. tapi uang sangat mudah keluar
dari kantongnya. namanya juga gila. tak ada beda dengan yang setengah.

Tak lama suasana terdengar riuh. Seorang peri terbang turun dari khayangan.
Ia siap membantu manusia kesusahan. Tapi Sang peri tak pelak dihujam hutang. Ia
pun tak mampu membayar. Dengan sedikit kepiawaian, ia lolos dengan cara
barteran. malam itu sang peri menawarkan buku sihir terbitan terbaru yang akan
dibelinya esok. semua berminat.

sang penagih hutang tak mau ketinggalan. Duit orang banyak ditangan. Ia
langsung pesan.

Tiba-tiba satu dari manusia bermuka "hangus" ultraviolet berwajah
sendu walapun tak sedang pilu, memohon dipinjamkan uang pada sang penagih
hutang. mulanya sang penagih hutang menolak, tetapi karena buku itu hanya
dibeli sekali seabad, ia pun mengalah.

Maestro itu datang juga. Semua semangat. Lebih tepatnya biasa saja. Tugas
telah berhasil dikerjakan. apa adanya. lengkap. bolong-bolong. copy-paste.
belum diterjemahkan. semua terkena imbas. sang peri sampai manusia setengah
gila. tak ada yang mampu melibas. tak juga sang penagih hutang.

Kalimat mulai keluar dari kerongkongan sang maestro. semua menyimak.
pertama semangat, lama-lama melambat. mulailah fatamorgana bertindak. lalat
terbang, kaki goyang, mata menerawang. "Ooo.." ucapan tunggal menjadi
sering terdengar. Suasana makin tak jelas ketika tugas bagai pisau lipat. ya,
berlipat-lipat. sang maestro tak puas dengan hasil jerih payah peri dan
manusia. Ia pun melontarkan bahasa-bahasa dengan tanda tanya. Sedikit demi
sedikit ada yang mengerti. Tak jarang ada yang mengerutkan dahi. Tak mengerti
secara pasti.
Terlalu abstrak untuk barisan
manusia dan peri.

Sang maestro tak
kalah menyerah, ia tetap tersenyum bangga dengan otaknya yang berhasil mengoyak
otak peri dan manusia.

Malam itu pun
berakhir. Sang maestro menutup jamuan dengan memberi buah tangan seonggok
indikator yang dipikul di masing-masing pundak pengikutnya.

Tak ada yang mampu menolaknya…

kehidupan malam yang keras,

sekeras perangai kepala batu sang penagih hutang.. 

 

 

 

ketika aksara tak dapat dibendung

Thursday, February 22nd, 2007

ketika seseorang
membuka otak dan melihat apa yang dilihatnya dengan mata telanjang, sebuah
karunia Tuhan kah? hope so. Terlahir dengan ucapan gamblang dan terkadang tak
terisolir, manusia lebih mirip anak kecil yang belum mengerti sakitnya dunia,
berucap apa yang sedang ia lihat. salah kah? hope not.

sebuah siang yang
biasa saja di penghujung minggu membawa seseorang ke layar sebuah teknologi
terkini, apa yang dilihatnya? sebuah komentar. ah maaf, dia tak bermaksud
menyinggung siapa pun, ia hanya melihat apa yang ia tengok saat itu. khilaf
berwacana? mungkin lebih baik dianggap wacana yang kurang lengkap. unfinished.
memang hanya satu nama yang terlintas dari benaknya waktu itu. ia memang polos.
Atau spontan? keduanya mungkin. sebuah karunia sekaligus petaka. hope so. biar
dunia imbang. bukan tambah bimbang dengan orang-orang serba sempurna.

sama halnya dengan
orang ini, muka yang dibilang mirip dua wajah dari tanah Jawa dan angker
seperti salah satu merk bir, nyata-nyatanya berhati murah meriah dengan segenap
isi otaknya yang sagala aya. tak jarang orang berlama-lama hinggap di
sebelahnya atau sekedar barter ilmu di pojokan sudut, atau tak sengaja bertatap
muka di sebuah resto makanan serba pedas, lalu mengalirlah semua aksara bak Big
Mac yang serba lengkap dan berisi. layaknya 108 yang serba tahu semua nomer dan
alamat. seperti internet yang paham bahasa politik,jazz sampai gosip artis
(yang terakhir nggak penting banget) atau hanya curhat colongan mengenai
sesosok pujaan hati. semua dia paham. tak cuma luarnya. dari kulit ari sampai
perut bumi. sosok yang menarik.

ya..susah memang
kalau mau dijelaskan lebih lanjut panjang lebar. sebaiknya bertemu langsung
dengannya. akan jauh lebih menarik. jaminan mutu. afspraak maken. make
appointment. janjian. sukur-sukur kalau ketemu di kampus karena ia sudah jarang
terlihat.

imbang bukan bumi
ini? ketika semua orang sibuk melabur penampilan, kualitas otak tampaknya
memang teteap nomer satu. jika semua makhuk serupa luar dan dalam, ah sebaiknya
dunia segera kiamatkan saja hari ini. tak ada yang menarik..

tak perlu menyebut nama siapa dirinya..

dua wajah dalam satu nama

Tuesday, February 20th, 2007

entah
dari segi mana tapi yang pasti bukan segitiga atau wajik (lha mamaku suka
sekali sama wajik! nyam..nyam..) yang pasti dari rambutnya itu lah yang panjang
tergerai ketiup angin atau terkadang dikibas bak sop buntut *ralat-buntut kuda*
bikin saya mikir IS HE ONE OF DIDI KEMPOT’S BROTHER?

Sebentar..sebentar..memangnya
Didi Kempot punya saudara kandung? kalau ada yang tahu mengenai hal itu let me
know! guna memperkaya khasanah para pembaca blog yang pasti suka nggak ada
kerjaan seperti saya, atau yang suka membaca curhatan blogger lain meskipun
kenal juga nggak, atau yang diam-diam suka nyolong kata/kalimat antik blogger
lain buat memperindah blognya sendiri. ya seperti itulah..

Kalau
merasa tersungging sorry-sorry aja, buat saya menulis blog hanya sekedar untuk
orang mengisi waktu luang yang terbentang terlalu banyak *penghalus dari sebuah
kata pengangguran,tapi saya nggak* bukan sebuah profesi yang mendatangkan geld
alias duit.

Beda
cerita kalau tiba-tiba seorang Jalaludin Rumi kalau dia masih ada, ikutan
baca-baca blog seperti kalian itu dan dapat ilham menerbitkan buku
"Kumpulan blog-blog termasyhur sepanjang segala abad amiiin..". Bisa
dipastikan posting blog akan bertambah banyak dalam hitungan detik entah itu
dari kalangan abg,emak-emak,koruptor, pengusaha,sosialita,sampe artis-artis
yang belakangan sibuk ngeluarin buku puisi *latah atau memang berbakat?*

Oke..oke..kebanyakan
intermezzo! balik ke masalah semula tentang orang yang disinyalir si adiknya
didi kempot itu, Tajuk utama dalam benak gue saat itu: “lha siapa nih orang?
tua banget, masih semester kayak gue pula,kapan mau lulusnya?” God im so sorry,
if I judge his “book” by his “cover” dan kalau kelak suatu hari nanti gue kenal
beneran sama itu orang, nggak cuma ngelihat mukanya doang di kelas ini yang
rada-rada angker..

Alhasil
sekarang saya kenal juga sama orang ini, yah memang dia bukan adiknya didi
kempot,bahkan ada yang bilang wajahnya mirip mbah surip. terus terang saya lupa
mimiknya mbah surip kayak gimana. salah seorang kerabat didi kempot kah? karena
orang satu ini kok bisa disamakan dengan dua wajah sekaligus dari tanah jawa.
tapi saya tetep keukeuh dengan nama didi kempot.titik.

Sebuah
penggalan kalimat medok yang keluar dari mulutnya dan membuat saya
terbahak-bahak: "de,jangan tersinggung ya. saya menunggu cukup lama untuk
menanyakan hal ini sama kamu. saya penasaran sekali, sebenarnya alis kamu itu
asli atau nggak? abis tebel banget.." yah selebihnya saya kurang
inget,daripada saya tulis taunya bukan kalimat seperti yang dia bilang waktu
itu, ntar malah jadi fiksi.

Ah, sudah 1 minggu kuliah tidak ada yang bisa
mengalahkan "pidato" blendas-blendusnya yang bikin kita punya comfort
zone untuk tidur dan nggak dengerin celoteh jenaka nan miris seorang dosen yang
suka mikirin segala macam masalah di muka bumi indonesia
*jeng..jeng..jeng..jeng..jeng..seperti nonton bulutangkis indonesia-cina* ini
("itu kan
pembodohan publik bla bla bla..") sabtu siang yang bikin mengantuk dan
melelahkan otak.

Yah itulah perkenalan pertama seorang mahasiswa
semester 3 yang nyebrang dari fakultas sebelah guna menimba sumur *ralat-nimba
ilmu* agar kelak menjadi editor in chief di sebuah majalah remaja, dengan
seseorang dengan kemiripan tingkat tinggi antara didi kempot dan mbah surip
yang tak perlu saya sebutkan namanya.