sirna

August 21st, 2007 by adeputri15

Sudah satu purnama terlewati,
sosok-sosok itu kian jarang terlihat. tampaknya sibuk dengan gundah gulana
sendiri. jodoh, duit, kemelut hati. memang belum tiba saatnya berkumpul
kembali, agar puncak rasa itu lebih afdol dinikmati.


Dimulai dengan hilangnya seorang gadis berambut ungu. Helaian yang
berangsur-angsur coklat, membuatnya mengambil keputusan untuk merantau ke ujung  kota merombak
bentuk dan warna sang mahkota. ia pun terbelit utang kiri-kanan akibat
kesibukan akhir bulan lalu. kini ia banting tulang tutup lubang utang-utangnya.
memang karma sungguh ada di dunia. dahulu ialah sang penagih hutang terhandal
sejagat raya. kini ia pun kejang-kejang dikejar hutang karma. edan..

Menggelinding bak bola salju. dari satu tempat ke tempat lain. kutu loncat.
satu dijabani, yang lain disabet juga. ia tidak maruk, mungkin hanya bimbang
pada si hati. mungkin hati kecil dan instingnya kurang bekerja untuk memilah.
semua tawaran menggiurkan batin. ia pergi merantau ke banyak negeri. negeri
pertama berlimpah bubuk pahit beraroma wangi. si boneka salju ini pernah
menetap beberapa purnama di negeri  ini, namun entah mengapa
tiba-tiba  ia minggat begitu saja. dasar kutu salju.  kali ini ia
seperti mendapat wangsit untuk menjabani negeri  pahit wangi tapi memang
kalau bukan jodoh pasti kemana-mana. selang satu hari ia minggat. seekor
merpati sempat menyampaikan kabar gembira agar ia sejenak ke arah barat, ada
sinar terang di sebelah sana.
sebuah harta  yang sesuai dengan ilmu yang didalaminya sedang menanti.
namun, karena medan
terlampau berat, ia tak mengubris. lalu, ia mendapat wangsit untuk ke negeri
yang lebih jauh. negeri hijau kaya. pergilah ia berlayar. akhirnya, mencairlah
si kutu salju ini di negeri berlimang koin-koin emas. mungkin saat musim dingin
tiba, ia akan mulai menggelinding lagi. kita nantikan..

Yang satu ini hilang pada enam hari dan dapat ditemui di awal minggu. ia cuma
mengeram dalam sarang mungil di pojok atap atau pohon bambu. berikan ia siulan,
kelak ia akan keluar dengan sayap biru tak lagi kelabu seperti hatinya yang
sudah-sudah. ia melanglang buana mencari hati yang belum terisi. lain waktu
mengalirlah cerita sendu kepergian mantan kekasih ke pelukan sahabat yang tak
lagi tercinta. siang menyengat tak kenal iba, ia bawa orang asing yang sebenarnya
masih satu pohon. ia ingin sekali terbang menjelajah hutan, namun kawanan yang
lain terpecar ke berbagai arah. Kali lain dibawalah seorang teman baik yang sebenarnya
tak pernah seorang pun pernah melihat sosoknya. Teman baik? Mirip dengan yang dulu. Berharap tak lagi melukai perasaaanya,
ia jalani hidup bebas ini dengan terbang menuju tempat-tempat asing. Berdua.
Tak ada yang lain. Mereka tidak nyasar, hanya bertapa sejenak menikmati
kesendirian..

Jiwanya terlempar ke gurun tandus akibat terbawa arus aroma kemeriahan
pesta. terombang-ambing dengan canda tawa yang berakhir penyesalan. saat ini
jiwanya separuh kosong. dibalik tawa renyahnya ia menyimpan kebingungan untuk
segera mengeluarkan jiwanya dari gurun tandus. segala upaya dijalaninya dengan
menjumpai jin pemilik gurun agar segera mengembalikan nyawanya. tampaknya
tidak membuahkan hasil. setelah ditimbang-timbang, beratnya masih dalam skala
minus cukup. walaupun demikian ia masih bisa bertandang menyaksikan dunia
seminggu sekali. memang agak sulit mengajaknya hijrah, karena sepertinya ia
masih memiliki luka batin yang belum kunjung sembuh. sabarlah, waktu itu akan
segera datang dan kita akan berjumpa lagi..


Makhluk yang bisa dikategorikan makhluk halus. begitu bulan baru datang, ia
sama sekali tak tampak. ia hanya bercengkrama melototi rangkaian tinta hitam
berbentuk huruf-huruf kecil. suaranya tak terdengar, apalagi mukanya. mungkin
di biliknya ia sibuk menggunting helai demi helai kertas tipis yang biasa untuk
bungkus kacang agar si ketua mudah membacanya. beberapa waktu lalu ia sempat
terlihat lewat kode-kode masa kini yang mengungkapkan keinginannya untuk
bertemu. lagi-lagi karena keterbatasan masa, batal pula pertemuan itu. masih
betahkah dirinya merobek2 lembaran itu? padahal sudah cukup banyak kawanan yang
pindah dari tempat itu..


Ratusan ribuan pengadu nasib ia
cerna satu persatu, entah apa kerjanya yang penting mereka dapat lulus menuju
perkampungan modern nan sadis di ujung dunia. Dengan bahasa carut marut dan materi seadanya, ia menjadi penentu kawanan
pemburu materi itu mencari jejak harta di negeri orang. Berharap tidak kembali
menjadi seoongok bangkai daging, ia harus ekstra keras memantau kemahiran masing-masing individu. Pekerjaan mudah namun membawa petaka dan beban batin
tak terperi ketika muka-muka pasif itu tak mampu kembali ke bumi.


Rumah keduanya telah menjadi rumah pertama setelah seorang bidadari
meniduri ruang kosong di sebelah kamar. Wangi semerbak surga tak dapat
terelakkan membuat hatinya tertambat pada sosok gaib. Bidadari dengan seorang
dayang. Bukan sedang bermain di muka dunia, tapi memang sedang mencari hunian
baru. Lama kelamaan sang manusia tak lagi bermain dengan kawanannya. Ia selalu
mengelak diajak. Dimaklumi. Didiamkan. Tak diacuhkan. Tak masuk hitungan.
Terbuang. Suatu siang tersiar kabar mengejutkan dirinya tersungkur di aspal
panas menggebu. Robek. Pincang. Terseok. Kala itu barulah ia mengingat kawanan yang tak lagi dijambanginya. Semoga
lain waktu ia tak terbuai dengan sesosok makhluk, karena masih banyak yang
peduli padanya. Semoga..


Tiga makhluk arus balik. Bukan subjek-subjek dalam cerita Pramoedya tapi
diri mereka yang ikut kemana pun angin
bertiup. Ikut arus. Satu lelaki baik tapi tak cukup untuk dicintai. Teman
terbaik sepanjang masa. Seorang Raksasa omnivora berhati lembut. Secercah peri
yang jatuh bangun menata sayapnya. Mereka yang bahu membahu mencari jejak
serbuk hilangnya sosok-sosok kurang waras yang merayap ke alam antah berantah.
Dengan segala upaya beberapa makhluk diatas mampu ditemukan dengan rayuan homo
gombal dan sihir maut agar semuanya berkumpul jadi satu.


Musim kembali berganti, hati kembali mencari muasal. Lambat laun mereka
merapat. Bercengkrama. Senda tawa gurau. Tumpahan serapah dan pujian hina
kembali termuntahkan. Hidup yang perak kemilau dengan garis hidup serabut namun
semua menjadi satu dalam satu musim. September yang kembali menyapa..

 

anti cengok di Changi

July 5th, 2007 by adeputri15

Ringsek
sumingrah. Setelah empat jam pusing-pusing di airport serba percuma ala Changi
Airport, Singapura, akhirnya seorang puan Melayu blasteran Manado beserta
seorang teman asal negeri keraton namun lama menetap di Bukit Tinggi,
memutuskan masuk ke ruang tunggu. Masa bodoh mau dibilang orang pesisir atau
apalah itu namanya, mereka ngemper di bilik itu.


Jeng Endang,
begitu sebutan si Puan pada karibnya, sudah tidak mengubris pandangan orang
sekitar yang dari tadi aneh melihat kelakuan dua gadis Asia
beda negara. Kaki dan betis cah ayu pegal bukan kepalang karena dari
tadi sibuk berbelanja barang bebas pajak dan anti palsu di bandara ini. Kopernya
sudah penuh dengan buah tangan sampai buah dada saking terlampau banyak yang
diboyong untuk handai taulan tulen di tanah air.
 


Kenapa kita pe torang tidak tiduran di snooze chairs disana saja,
Jeng Endang?“ tanya Puan asal Malay tetap berlogat  Manado.

 
indak ba’a ko uni,kulo ndak tahan silau! Lagipula ambo
ora iso
bebas turu seperti ini” sahut si putri kraton dengan bahasa
campur sari RM sederhana vs RM wong solo.


Berbeda sekali dengan di Indonesia.
Kalau ada kursi gratis seperti ini bisa dipastikan semua orang berebut dan ngantre
untuk rebahan di kursi malas itu. Kalau tidak gratis, pasti dijaga oleh mas-mas
SPB dan mbak-mbak SPG berlakon bak dokter dadakan dengan kemeja praktek putih.
Bentuknya tidak akan jauh beda dengan pemandangan  promosi kursi pijat di
PIM 1 lantai dasar dekat Baskin & Robin’s. Tapi di Singapura, fasilitas ini
dapat ditemui dari ujung kaki sampai ujung kepala di tubuh bandara. Gratis.
Obrolan dua insan tadi pun berlanjut mengenai airport Changi yang sejak pagi
sudah mereka bedah.


Kaki keponakan langsung Mbah Jum yang pegal itu
sebenarnya sudah sempat dipijat di The Oasis di lantai dua. Lagi-lagi gratis.
Bermodal kursi pijat otomatis, dua manusia antah berantah asalnya ini
menghabiskan waktu seenak jidat.

 

Tiba-tiba sang Puan perawan pemilik resto Nasi Lemak ala
baku dapa teringat tempat pijat di ruang tunggu Bandara I Gusti Ngurah Rai,
Bali. Disana ada juga layanan pijat refleksiologi murah meriah. No plus plus.
Dengan merogoh kocek 20 ribu rupiah, 20 jari sudah bisa dipijat selama 30 menit
dengan bantuan mbak-mbak pemijat. Meski pijat seadanya, namun manjur membuat
jeng Endang tertidur sejenak dengan mulut menganga. Mereka berdua
terbahak-bahak bak inang-inang.


"Hmm.. berarti sewu perak buat satu jari. ya
toh
?" sejenak pikiran medit asli Padang mulai menjejali pemilik
wajah mirip Ratu Pantai Selatan, yang masih sempat itung-itungan dengan kaki
senut-senut sakit gigi. Yah, namanya juga sudah lama tinggal di Bukit Tinggi.


“Tumben mbak yu,
biasanya main internet sambil nunggu boarding.” tanya Endang basa basi biasa.


“Kita pe punya mata so
perih, tahu sendiri tadi kita sempat main games di iConnect di lantai tiga.
Seronok kali ya tempatnya! Ododoe,nyandak salah maso to ini, pe sepi skali
kwa
, jadi kita jo orang bisa kebagian main Microsoft Xbox percuma.
Cuba di Jakarta ada game center free seperti ini. Tak perlu masa nunggu delay
lah!
” si Puan ngomong panjang lebar.


“Yaa..kalau ada di airport Jakarta, paling keseringan out
of service, mbak yu
." sahut jeng Endang.


“Bah! Tapi kan bisa dibuat dengan sistem bayar seperti
Nexus Lounge di lantai tiga, yang sebelahan dengan iConnect itu” kata si Puan
yang tak sengaja berlogat Batak tanpa diminta.


“Tentu. Tapi pasti mahal abeeees. Wong di tempat
biasa aje, satu koin harganya bisa 5 sampai 10 ribu perak. Kalau di bandara ente
mau bayar berapa?” Endang kembali men-smash pertanyaan yang kini dengan
bahasa Betawi ABG.


"Ha..ha..ha..ngana pe mau bayar 30 ribu per
satu koin!? Mending kita pusing-pusing jo di pasar senen” jawab si Puan
Manado makin campur aduk.


Tidak terasa obrolan santai berapi-api bertubi-tubi
muncrat mancrit habis ditelan waktu. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari
pengeras suara, pesawat dua anak rantau itu tertunda keberangkatannya dua jam
karena masalah teknis dan cuaca buruk. Menunggu di Changi airport?  Geen
probleem..


Masih
dengan posisi tiduran, duo partner in crime itu bergerumul untuk kembali
merajah badan bandara. Akhirnya mereka memutuskan untuk mandi sejenak di
Rainforest Lounge yang masih berada di terminal yang sama, lalu ke Movie
Theatre, bioskop cuma-cuma 24 jam, letaknya satu lantai dengan game center.


“Tunggu 15 menit lagi ya, masih pengen leyeh-leyeh
nih!” kata Endang.


“ OK! Oia jeng! jangan lupa so bayar
utangmu, wang ngana masih sama pe orang, tadi jo pinjam
buat main di Nexus Lounge” sahut Puan tak kalah pelit.

 

“Siap, bos!”
tandas Jeng Minang, Endang.

 

 

 courtesy: seventeen indonesia Jan’06, 104-105

 

 

 

angan terpendam

April 29th, 2007 by adeputri15

jikalau manusia bisa memilih dan dipilih untuk menjadi
pencipta inilah yang akan terwujud dari angan-angan tak berwujud. hari ini
kuingin menjadi Tuhan yang akan mengukir nasib anak manusia…

putihnya mayat akan sangat cocok dengan perannya sebagai eksekutor daripada
menjadi jurnalis yang tampak terlalu cantik untuk berpanas-panas ria mengejar
deadline. segelinitr pembicaraan bersama seorang jin memperlihatkan karir yang
sebenarnya harus ia jalani. pemimpin eksekutor listrik. menyenangkan bukan?
membunuh manusia-manusia penuh dosa karena suka nilep duit orang mini, jangan
langsung ditembak mati. biarkan perannya berlakon bersama listrik dan air.
menyetrum dosa-dosa di tempat tertentu. begitu kata si jin. sebenarnya sang jin
hanya ingin langsung merebut nyawa orang-orang itu, tapi entah kenapa yang
keluar dari mulut si mayat hidup ini selalu listrik dan air. berulang-ulang
kali ia sebutkan. mimpi tak kesampain rupanya. ideal. dengan mimiknya yang
kadang tanpa ekspresi disambut dengan beningnya kulit asli solo, akan
menghantarkan manusia ke alam baka. jangan lupa tambahkan percikan air agar
listrik memancarkan energi yang kian kemilau bersama tawa di giginya yang juga
diberi besi listrik. perempuan pintar…

kapster berkedok tukang jual obat. penampilannya kurang memadai untuk jual
obat. tidak lusuh karena ia cenderung atau bahkan terlalu nyentrik untuk
kalangan yang hobi nipu. tak apalah. suara itu membahana memekakkan telinga
jika di ruangan sempit dan tak kunjung berhenti. biarpun sudah diperingati,
turun pun tidak rupanya nada itu. malah makin meninggi. ia tahu tapi masa
bodoh. tak tahu diri. pantas bersanding dengan pekerjaan menjual obat. gigi
kera, jempol bocah atau apalah itu, yang penting laku. untuk menyeimbangkan
perawakan rapi, biarlah ia menjadi kapster unggulan. berbekal jelly di rambut,
ia sanggup menyanggul kepala botak sekalipun. satu kebiasaan favoritnya yang
juga akan terlasur jika menjadi kapster adalah rajin menggosok kepala orang.
bagus dilakukan sebelum menata rambut agar pening musnah. salonnya pasti laku
di ibukota. pria beruntung…

pengamen jalanan. gadis ini kecil dan judes. bisa nyempil dan umpel-umpelan
dalam angkutan umum. jurusan mana serahkan padanya. kalau tidak diberi duit ia
memaki.
"weee..lacur!" sahutnya.
Meski kecil ia kelihatan. lafas lagu pinggiran dan non top 40 atau non top 100
ia tahu. suruh saja ia berdendang, dengan suara pas-pasan akan ia jalani dengan
sedikit sentuhan koreografi ala agnes monica, goyang dinamis pentasindo atau
gaya malu-malu pembantu akan ia libas habis. kelak seorang pencari bakat
menemukan jati dirinya dan ia pun menikah dengan pria kaya raya. gadis
cerdas…

dokter gizi. sudah lama ia bergembul ria dengan perutnya. bulat lontong. sehat.
pantas menjadi dokter gizi karena sesuai hobi, menghitung kalori, mengkonsumsi
sayur dan buah serta rutin olahraga. ketekunan untuk bertransformasi menjadi
kambing berwujud manusia, layak menghantarkannya berprofesi sebagai dokter
gizi. watak dokter yang detail dan perfeksionis, selalu setia mengabdi pada
jalur yang sudah ia ambil. sayangnya si dokter ramah ini sedikit pemalu. agak
sedikit lama jika ingin mendapatkan kekasih. karena suka ia simpan di dalam
hati. kasihan sekali…

aktivis perempuan. Profesi yang ia ambil setelah mengalami bermacam-macam pelecehan
seksual gratisan. Dari luar tampak lemah dan pemalu, tapi di dalam diri itu ada
kobaran api yang menyala. cobalah berbicara dengannya. kaum lesbi, gay,korban
kekerasan rumah tangga, masalah TKW, akan ia angkat ke permukaan.  dengan
segala hal yang terjadi di dunia, ia memutuskan untuk hidup berhemat agar bisa
merasakan pahitnya hidup kaum yang suka ia berjuangkan. satu hal yang harus ia
waspadai, fisiknya terlihat pucat karena kelelahan dan lagi kurang asupan.
dengan segudang kegiatan yang silih berganti, tak ada salahnya berkonsultasi
dengan dokter gizi. kadang dengan padatnya aktivitas, ia lupa bahwa seorang
aktivis pun perlu pendamping hidup. seorang  pria mapan dan berpendidikan
tinggi sangat cocok bersanding bersamanya. seluruh dunia pun tahu sosok yang
dimaksud. jangan berpaling, kejarlah dan kau kan berada dipelukannya. ia tidak
akan mengesek-esek dirimu…

ibu rumah tangga. gemar berkemas dan mengatur keperluan. tak pernah ada kata
marah dari mulutnya. sabar. sungguh bahagia. anaknya nanti banyak, tapi ia bisa
mengatasi. ia tidak pelit walaupun berdarah padang. sehari-hari ia akan membuat
puluhan kue kering dan makanan hasil racikan tanggannya yang dari dulu memang
liar. jangan suruh ibu  rumah tangga ini memegang pecah belah, serta merta
akan ia pecahkan tanpa disengaja. kalau ada waktu ia akan berjualan kosmetik
luar negeri yang murah meriah kepada anggota arisan kompleks. istri yang
baik…

koki. berbentuk gempal bak empal. tidak rakus tapi makan dengan porsi nambah
terus. daripada makan tiada henti, masukkan saja ke dapur umum. jika sudah
mabok makan banyak, ia akan segera memasak. sendal jepit pun bisa ia wujudkan
menjadi semur lidah yang kenyal dan gurih. dengan kepiawaian melahap segala
macam kuliner, tak salah jika garis hidupnya disunting menjadi koki hebat hotel
bintang 7 di Dubai. kelezatan hidup tiada tara…

pengarah gaya. manis bukan perempuan. botak bukan rontok. kelak senyum itu
sulit dilupakan kaum pria. sahabat karib perempuan dengan segudang masalah. ia
berusaha keras berwajah garang namun apa mau dikata karena sudah terlanjur
diciptakan. Dengan segala kekurangan karena dari sononya berwajah centil, ia
menelusuri panggilan alam menjadi pengarah gaya majalah hedon. berbekal muka
camera face plus berbokong aduhai untuk sekelas pria, wujud pria botak ini
dapat ditemui sebagai pengarah gaya andalan redaksi fashion dan model-model.
ladies, strike a pose please…

Surfer. Banyak yang ingin memiliki kulit sawo matang dengan berjemur dan
mengolesi krim pencoklat kulit, tetapi sedikit yang ingin berkulit sawo
terlampau matang. sawo malang.  Kecil diolok-olok. dibalik kegelapan
parasnya yang terkadang sok sangar, ia hangat bagaikan rembulan di kala malam
sunyi. terlahir dari turunan  "nenek moyangku seorang pelaut",
esok hari ia akan berubah menjadi sesosok surfer cassanova. ia dikaruniai bakat
kasih agar mampu menjaga konco-konco kecil dirumah. Kelembutan meladeni kaum
hawa, tak pelak akan mendatangkan banyak penggemar misterius yang saling
bersikut sinis merebut hatimu. Dibalik hidung belangnya yang sedikit tidak
terbentuk sempurna, ia tak pernah alpa bersimpuh dihadapan sang penebus dosa.
tak ada salahnya mengikuti jejak keluarga, karena tak akan ada yang menyangka
dirinya terlahir gelap gulita, semua kan berpikir kulit itu hasil olahan air
laut dan sengatan mentari pantai. Surfer berbakat…

artis melankolis. ia akan terlahir di tengah keluarga kecil bahagia yang erat
dengan tradisi dan penuh kasih sayang. parasnya tidak kalah dengan artis
pendatang baru kelas Punjabi. karirnya mungkin sekarang hanya mentransfer ilmu
kepada manusia polos yang otaknya belum dimasuki racun dunia. sebaiknya dirubah
saja menjadi pelakon protagonis nan melankolis. berkat raut wajah yang tidur
segan-bangun pun tak mau, tawaran bersinetron akan menghujaninya. Toh baru-baru
ini nasibnya agak sedikit kurang beruntung akibat di PHK tanpa syarat. jika ia
banting setir alih profesi,honornya tak tanggung-tanggung untuk sekali kontrak.
nasib baik jika dikontrak eksklusif. ia bisa beradu akting dengan si sepuh yang
senior atau kawanan abg muda berkulit putih hasil dembulan serbuk putih. ia
tidak akan menjadi si sombong karena artis ini ingat semua nama. dan lagi
ramah. seimbang dengan harapan para penggemar. kombinasi menarik…

sarang mungil

April 26th, 2007 by adeputri15

Malam
kian larut ketika pisang merah melaju membelah labirin sempit. Tak lama,
singgahlah dua perantau malam di sebuah sarang mungil. Suasana sunyi senyap.
Gelap temaram mengelilingi sekeliling. Sarang mungil sederhana namun hangat
dengan orang-orang di dalam yang mampu memendam kebisingan kota dari
roda-roda raksasa dan cemooh mulut-mulut kasar. Tak perlu banyak bicara, dua
perantau malam segera menghampiri. Ruangan memanjang yang membentang tampak
rapi dan bersih dari kotoran. Dua dudukan empuk tak terduduk oleh siapapun.
Kiranya sang nyonya sudah masuk ke bilik. Ternyata tidak. Pintu berdecit ringan
dan tampaklah tiga generasi di dalam. Senyum lembut mengulas gincu murni
si pemilik. Rona paras terlihat lelah diiringi garis-garis manula nan tegas.
Dia, sosok perempuan ningrat dilapisi kain batik untuk ke alam mimpi. Sapaan
hangat meluncur dari deretan gigi dan gema suara yang lirih karena takut
terkontaminasi dengan keriwehan dunia luar.


terima kasih sudah mau mampir ke gudang kami”

Ah!
Beliau sangat pandai memilih huruf untuk dijalin. Gudang yang lebih mirip surga
kehangatan makhluk-makhluk dengan tutur kata santun dan bersahaja.
Seorang makhluk mungil yang baru beberapa bulan lahir ke muka bumi juga tak
jauh beda dengan generasi sebelumnya. Kelak ia pun akan berwatak anggun bak sang
moyang. Bergaris muka halus, beruntai kalimat berkilau mutiara.

Cacat
selalu ada di setiap lingkup kehidupan. Mungkin dunia yang sudah semakin sadis,
salah satu makhluk dari sarang itu memang berwajah kemayu. Ada satu hal yang
tak boleh terlewat. Ia bengis. Yah, mau
dikata apa, meskipun lahir dari rahim yang sama tapi watak itu terasah dari
keringat dempulan asap kota dan penyakit otak yang doyan mampir muter-muter.
Ucapan suka tidak terkontrol, buyar namun tetap berarti. Menohok memancarkan
kekecewaan dan teriakan impian tersulam sempurna. Makhluk aneh, lama-lama ada
juga kesamaan dengan yang normal. Ia tidak suka diremehkan karena gadis pasar
ini encer dan lentikannya lebih cepat dari sambaran petir di bulan kelabu. Keberatan
jika disinonimkan dengan gadis langsat ketika sosoknya harus menyeka gumpalan
air tubuh yang lewat diatas bekas jahitan tepat di kepala yang dulu sempat disenggol kotak
sabun raksasa. Hah! Apa salahnya dihilangkan sedikit agar tak menjadi kerikil kecil non
permanen, untung ia bukan batu bersemedi pembuat gusar.

Entah
sudah berapa lama perantau malam berada disarang itu, tampak belum boleh
beranjak pamit oleh nyonya ningrat. Si gadis pasar hendak ikut serta bersama
mereka, tolakan mentah pun diterima. Mau bilang apa kalau sejak dahulu kala tidak
ada sepercik kata mengiyakan untuk memondok di tempat orang, toh punya gubuk
sendiri. Dan malam ini dengan perasaan tergesa-gesa hendak ikut bersama
perantau malam meskipun ada makna jelas yang terkandung. Masalah
kevaliditasan yang nyaris membuat manusia bunuh diri karena tak seorang pun membantu.
Hanya kerelaan seorang gadis pasar ini akhirnya ada titik terang yang
membayangi di tengah kesuraman batin.

Misi mulus sama saja dengan memperlebar durasi duduk. Waktu seakan berhenti ketika sultan yang
mengepalai sarang muncul. Sanggar. Berhati lembut. Lantunan wangsit
dari bibir hampir tak terdengar. Daun telinga dipasang sementok mungkin
supaya wangsit panjang lebar yang wajib didengar kalau perhelatan tak mau bubar
jalan, sampai ke otak. Perkara sepele dan sering terngiang tetap harus disimak.
Cerita punya cerita tidak dinyana ada kemiripan pada orang-orang yang dikenal
satu sama lain. Dunia hanya secuil daun mangga. Seperti apa pula besarnya?
Entahlah. Yang pasti sang baron akhirnya mengalah merelakan little missy si
gadis pasar itu dibawa oleh perantau malam. Perantau malam tak habis pikir, ada
saja kebetulan datang menghampiri. Mulus bersanding dengan jalan tol.

Malam
sunyi sendiri. Bunyi jangkrik menemani di tepi kisi-kisi daun yang sejak
tadi berhembus bersama racun kimia. Labirin sempit dilewati kembali, menyeruak
meninggalkan sarang mungil yang makin lama kian ditutupi oleh tumpukan dedaunan
dan tanah beton serta gemerisik angin suntuk pengaduk perut. Sarang mungil sudah
ditinggalkan. Sarang mungil yang membekas di hati dua perantau malam.   

36

April 19th, 2007 by adeputri15

titiw 
April 18, 2007 

The
One = Magenta feeling on her hair. Di balik cekakak itu tersimpan kekayaan hati
yang hanya orang2 yang ia pilih dapat merasakannya. Loyal jika ia sudah memilih
seseorang. Baju, celana, kalung, tas, selalu bergelut dalam jiwa dan raga.
Gerakannya selalu menyeruak angin di lapangan pada siang hari sehingga putih
itu berganti coklat dan bertransformasi menjadi kemerahan. Sejumlah nominal
harus terkumpul dalam minggu ini juga. Hati2 dengan hidung dan tangannya, kalau
tidak ingin diinspeksi olehnya.
Aksara itu tak terkatakan jika lara
mendatangi.. katakan saja The One.. atau itu semua dapat menjadi lumut licin
yang dapat menggelincirkan orang2 di sekitarmu..
meskipun itu lama, namun pasti.. dibandingkan tidak sama
sekali..

 

gadis bersayap

April 8th, 2007 by adeputri15

Dia seakan tahu segalanya tanpa
harus diucapkan. Tak hanya sekali. Ketika menangis, tangannya akan menghampiri
mengusap hati. Tatapannya membuat malam menjadi pagi. Ia bukan malaikat. Ia
hanya gadis bersayap, tapi tak mampu terbang. Sifatnya sama seperti gadis polos
lain. Kadang murung membuat hari menjadi berkabung. Kadang ceria, membuat bulan
tersenyum di kala siang. Semua makhluk selalu bersamanya.
Sayapnya mampu menyatukan
magnet sesama kutub, menghangatkan jiwa yang sedang kalut, tempat bersandar
ketika bantal tak ingin membantu tidur. I
a selalu ada.


Malangnya gadis bersayap tak mampu mencintai makhluk. It’s in her blood. Sayapnya
mampu membius segala suka cita menjadi amarah dan murka. Jangan pula harapkan
kehadiran sayap emasnya ketika sedang tak butuh. Karena ia tak kan muncul. Jikalau
menemukan, petaka akan hinggap bersama. Merekat erat seumur hidup
dunia. Ia hanya bisa terpana, kenapa hanya dia yang bisa dicintai tapi ia tak
mampu membalas kembali. Tanpa sengaja ia menyakiti pemilik hati yang tulus
membagi. Dengan sekedip mata, hati terbelah tiga. Koyak. Sering juga berceceran
sampai tak sanggup untuk dipungut dari dasar bumi. Ada yang menangis, menjerit,
ada pula yang bungkam. Banyak yang pergi, tak sedikit yang mencoba kembali.
Semua nihil. Gadis bersayap tetap akan melukai. Walau tanpa hati. 


Semua resah karena ketika ia mulai melepas sayap, orang sekitar
menjadi sangat takjub dan tak melihat sebagai sosok normal. Ia manusia,
bukan siapa-siapa. Ia hanya ingin dianggap biasa. Dengan atau tanpa sayap. Ia
menangis dalam keramaian namun tak seorang pun dapat melihatnya. Mengapa tiada
yang mengerti dirinya? Kelompok perjaka gelisah karena tak mampu mencintai
apalagi memilikinya. Bagaimana mungkin mencintai tanpa harus memiliki, itu hanya sebuah
dusta. Dusta terparah di jagat negeri.


Gadis bersayap. Serupa burung tak sama bagaikan gunung. Ia belum juga
menemukan kekasih sejati, ia tak ingin mencari karena ia tinggal memilih.
Memilih dalam kegelapan. Entah sampai kapan. Meraba kehampaan. Kadang merangkul
kesenangan semu tak berujung. Sayapnya mulai usang, tapi sinarnya akan terus
berkembang. Ia tetap istimewa. Tawanya akan terus bergema memanggil kesejukan
dunia.


Memang gadis bersayap serba salah. Jika memberi jangan terlalu banyak
berharap untuk berbagi. Diamlah sampai waktu muncul di ufuk tenggara
dimana tidak ada matahari dan bulan hinggap disana. Saat yang tak terduga. Saat diri tak lagi merenungkan sayap serta sibuk dengan dunia. Siapa tahu ia datang
menyapa. Sepenggal sapaan hangat akan membuat jiwa menangis kegirangan. Tak ayal pasti akan memeluk, mulut akan tersungging
ke kiri dan kanan. Barisan dongeng tanpa henti bergulir.
Sekelilingan buram. Buta. Tanpa sadar hanya akan menyaksikan dirinya
seorang. Entah dianggap aneh atau sakit
jiwa, hal itu tak menjadi persoalan. Itu hanya omongan orang. Orang yang tak
mampu menangkap sibakan sayap emas meski jarak tak lagi memisahkan.


Gadis bersayap, tak mampu melumpuhkan sayap. Biarkan tetap ada
karena itu yang membuat istimewa. Jangan coba melupakan, karena ia tak
akan pernah sirna, ia selalu ada jauh di dalam sanubari manusia-manusia bumi.

Seseorang Ingin Menari 3

April 5th, 2007 by adeputri15


Dear, Ade Putri Nurgrahani


Wed Apr 4, 2007 3:39 pm

entah di bulan apa?
matahari terang benderang
dan daun tumbuh kecil-kecil
menjadi rimbun, adalah saat
seseorang membuat sajak - bercerita
tentang perjalanan jauh seorang laki-laki
pemalu hingga perlahan kisahnya sekusam
mimpi seorang pesakitan (di kutub-kutub
nihilistik yang sepi)- daun-daun yang
tumbuh dari sajak kini menjadi tempat
berteduh untuk ku.

O, seorang Gadis, entah berdarah
biru atau? yang memiliki rambut
bagus -yang tlah membuat sajak dengan
huruf-huruf yang seperti menari,
oh, hei!.., menari?.

:sementara itu, datang pinokio,
pinokio yang baik, yang suka berbahasa belanda
dan berambut kemerahan -membawa majalah
gadis remaja.

aku mengingat gadis itu dan
mengingat pinokio, lalu:
"apa mungkin pinokio bisa menari?"

tapi aku gugup, bingung,
gemetar, ada yang berkata pada ku

"pinokio minggu depan udah
ga ada, udah musnah, ha ha ha".

ah, aku menyukai pinokio
seperti melihat wajah ibu
di wajahnya, kini yang ada
si gadis pembuat sajak,
yang tlah mengganti sinar purnama harap
yang mati dengan kalimat yang secerah mata bunda
huruf-hurufnya yang bijak dan seperti menari itu
kini menjadi sayap organik di punggung ku,
setidaknya aku menumbuk luka menjadi puisi
dan tulisan-tulisan.

"gadis pembuat sajak,
tolong aku ya, bila bertemu pinokio,
tolong sampaikan pesan ku ini:
di hutan hijau, pinokio, kau akan
bermain dengan smurf, lalu pak janggut,
serta cinderella dan pangeran; yang mungkin
akan mengajarkan mu menari, hutan hijau
tak jauh dari rumah ku, aku pernah mengunjunginya,
ada tintin dan snowy juga, serta kapten hedock yang
marah-marah, tapi tak usah takut ya, ia baik kok".

-gadis pembuat sajak
selalu rajin merapikan huruf-huruf,
menata kalimat dan menyusun paragraf-paragraf,
kadang ia bercerita lewat prosa, tentang seorang
putri temannya dan hal-hal istimewa lainnya.

"terima kasih, ya, gadis pembuat sajak"
oh!, ternyata ia juga seorang putri, aku pernah
melihat kaca berhiasnya yang apik dan peralatan rias
wajah lainnya, bagus-bagus, tentu sulit mendapatkannya
di tempat biasa, hmm..gincunya menarik.

gadis pembuat sajak
apakah ia bisa menari seperti huruf-huruf di tiap
sajaknya? hmm..semoga bila bertemu pinokio
ia akan mengajarkannya menari, Amin.

*okky_merindu* 

A D E

March 19th, 2007 by adeputri15

Harison Haris
march 05, 2007

Pada
mulanya adalah alis. Alis yang tebal. Alis yang sempat membuat mataku
tak tahu diri. Bukan berarti mataku adalah jenis mata yang melulu tahu
diri. Tapi saat itu, saat pertama melihat alis tebal itu,
ketaktahuan-diri mataku mencapai tabiat yang paling menggelisahkan.


Aku
tak malu-malu mengakui alis itulah alis terbaik yang pernah kulihat di
UI. Bentuknya pas dengan separas wajah yang nyaris bulat, yang kadang
dihiasi dengan sedikit jerawat. Dan mata yang kadang menyipit. Dan
rambut lebat yang membuat daun-daun telinga seolah absen. Semuanya
adalah paket yang menyehatkan mata. Mata yang tak tahu diri.

Sepertinya
keputusanku menobatkan alis tebal itu sebagai yang terbaik di UI –yang
membuat mataku tak tahu diri— itu adalah sebuah keputusan yang
terburu-buru. Sembrono. Tapi aku tak takut diolok-olok dengan
keputusanku itu.

Di
UI, terutama di FISIP, banyak alis indah atau di-indah-indahkan. Dan
aku tentu tidak bisa mengelak untuk mengakui bahwa banyak sekali
alis-alis indah berseliweran –sesering lalu lalang kendaraan yang
melintas di Margonda.


Ya,
pada mulanya adalah alis. Kemudian wajah yang tampak bosan dengan
berbagai celoteh dosen di kelas. Kadang dia menguap. Kadang dia
menyandarkan kepalanya di lembaran papan yang satu paket dengan kursi
kelas. Selebihnya adalah ketelatenan. Ketelatenan yang mengagetkan.
Semua hutang dia dengan rapi dibariskan di sebuah buku mungil. Juga ada
catatan remeh-temeh lainnya. Sepertinya, si pemilik alis tebal ini
sangat terlatih menekuri hal itu. Termasuk menyimpan nomor telpon yang
belum tentu pernah ditelpon.

Beberapa
hari yang lalu, atas bantuan kawan, aku mendapatkan nomor telpon si
pemilik alis tebal ini. Aku menelponnya. Panggilan telponku tak
mujarab. Beberapa menit kemudian dia baru mengirim SMS:

Wazzup mas har?! Aku br bgn tdr. Td nlf ya

Aku
kaget dengan kekagetan yang tak bisa ditukar dengan jenis kegagetan
yang lain. Dari mana dia tahu aku yang telpon? Ingatanku memang tidak
handal, tapi masih cukup handal kalau hanya sekadar mengingat siapa
saja yang pernah minta nomor HP-ku. Dan dia, si pemilik alis tebal itu,
bukanlah orang yang pernah minta no HP-ku.

Tapi
kekagetan dalam stadium yang lebih tinggi aku rasakan ketika suatu hari
dia memulai debut sebagai blogger di Friendster. Dia menulis tentang
aku, dengan detail yang membuatku merasa malu: betapa orang yang
kuanggap cuek-bebek dengan orang lain itu ternyata orang yang dengan
cermat dan seksama mengamati orang lain. Aku terharu.

, Aku coba kutip  tulisan wanita beralis tebal itu:

….Sebuah
penggalan kalimat medok yang keluar dari mulutnya dan membuat saya
terbahak-bahak: "De, jangan tersinggung, ya. Saya menunggu cukup lama
untuk menanyakan hal ini sama kamu. saya penasaran sekali, sebenarnya
alis kamu itu asli atau nggak? abis tebel banget.." yah selebihnya saya
kurang inget, daripada saya tulis taunya bukan kalimat seperti yang dia
bilang waktu itu, ntar malah jadi fiksi…..

 

Setelah
itu, karena kesalahpahaman virtual, dia menulis blog lagi tentang
diriku. Aku agak malu mengutipnya karena isinya semua serba bagus. Aku
kira, aku tak seindah itu.

Pada
mulanya alis, dan akhirnya sore ini. Dia persis duduk di sebelahku di
kantin psikologi UI. Tak ada jarak. Rapat. Baik secara fisik maupun
psikologis. Dengan terus terang dia mengaku mengantongi uang dua ribu.
Sebuah pengakuan yang mengharukan. Selebihnya: adalah sebuah obrolan
yang semakin mempertegas kepongahanku.

Ade,
adalah manusia yang tidak hanya punya alis tebal. Tapi manusia yang
hangat di sore hari. Dan akan semakin hangat di waktu yang lain.  Ya,
jujur saja, tulisan ini tidak berbicara soal alis yang tebal. Tapi soal
kehangatan yang tak tipis. Berlapis-lapis. Dan itu adalah milik Ade.
Ade Putri.

Seseorang Ingin Menari 2

March 19th, 2007 by adeputri15

reski_anto


Wed Feb 21, 2007 3:07 pm


dear, Ade Putri Nurgrahani

akulah jamur atau benalu saja
di sebatang pena ku hidup
setidaknya, ku hias sebakul
masa dengan metafor dan pintu-pintu
hendak selalu terbuka

Ade, bagaimana lalu hati mu?
kau tlah jarang merangkum:
kata-kata pada sajak,atau hei
kau tumbuhkan bunga-bunga
lagi di rambut mu, warna merah
menarik, "setelah dulu wanginya
kini lengkap dengan warnanya"

ya, pintu-pintu itu memang terbuka
aku menjadi pak janggut, mengitari
atau berjalan saja "membawa bekal karena
aku memang sedang dalam perjalanan"

Ade, sebijak apapun itu - kau pasti
ingat sahabat-sahabat: mereka tidak menganakan
sayap peri-peri namun melihat mu - dengan
jujur dan semestinya, membuat mu ringan
melukis keputusan di awan

mungkin belum saat ini menarinya
seperti waktu itu pernah kau tulis
(dalam bahasa inggris) - kau rangkum saja
lagi - tuang dengan senyum manis mu
dan kebesaran hati

"entah kenapa aku terlihat seperti anak kecil
di hadapan mu"

ya, Ade, seperti putri nanti
kau pun akan menari, Amin

*okky_merindu*
mamah Ade
semoga tidak seabstrak
seperti yang pertama yaa hehe
semangat menjaga si Dami yaa :)

Seseorang Ingin Menari

March 19th, 2007 by adeputri15

reski_anto
Thu Jan 4, 2007 10:28 am


*Dear, Ade Putri Nurgrahaini

di teras waktu
pagi-pagi
tanpa kopi dan redup mentari

desir alir menuakan angka,
jam tangan mu?

"ia menunjukkan ku jalan
ke sebuah rumah, saat hari
kelahiran seseorang di beberapa
tahun lalu"

boleh aku bercerita tentang sayap?
padahal kau tak terbang
hanya bekerja, kekasihnya belum datang

entah kenapa ia bercerita tentang seledri

"ah, kau belajar di belanda,
lebih baik ceritakan pada ku tentang keju,
seledri?, hmm.."

seperti ada peri di matanya
dan wangi bunga tumbuh di rambutnya
aksara-aksara nya pun cantik
mempertemukan bibir dan senyum, derai tawa

sebagaimana kisah,
mengurai apa yang sebenarnya mungkin dan tidak, lelaki

dan catatan-catatan sejarah
serta gincu berwarna merah

seseorang ingin menari



*okky_merindu*

Besar rasa terima kasih ku De,
untuk nasihat-nasihat mu di berbagai
medium pesan, yang mereduksi luka
hingga sirna, mari bersemangat di
tahun 2007, Jiayou Ade!,
walau sibuk sempetin curhat lagi ya bo :)